Musuh Yang Sulit Dikalahkan ESTER 3 : 1, 5 - 6


ESTER 3 : 1, 5 - 6
3:1 Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda.
3:5 Ketika Haman melihat, bahwa Mordekhai tidak berlutut dan sujud kepadanya, maka sangat panaslah hati Haman,
3:6 tetapi ia menganggap dirinya terlalu hina untuk membunuh hanya Mordekhai saja, karena orang telah memberitahukan kepadanya kebangsaan Mordekhai itu. Jadi Haman mencari ikhtiar memunahkan semua orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh kerajaan Ahasyweros.

Ternyata, musuh yang sulit ditundukkan itu berada sangat dekat dengan kita dan selalu mengikuti kita. Siapakah dia ? Ada tiga musuh manusia yang selalu merongrong dan berusaha menghancurkan hidup kita.

Pertama, musuh itu adalah setan yang keberadaannya jelas-jelas mengganggu manusia dan berusaha menjatuhkan manusia dengan berbagai macam cara.

Musuh kedua adalah dunia ini yang acap kali dipakai oleh setan untuk menggoda dan mempengaruhi manusia supaya berkhianat kepada TUHAN.

Dan musuh yang ketiga adalah musuh yang paling berbahaya dan paling sulit ditundukkan. Siapakah dia? Ternyata, musuh itu adalah diri kita sendiri. Kalau kita tidak bisa menguasai diri kita, setan akan mengambil alih untuk menguasai diri kita. Tujuannya, untuk menjatuhkan kita.

Kita akan belajar dari kehidupan Mordekhai dan Saul dalam memerangi musuh yang paling sulit ditundukkan.

Musuh bebuyutan Mordekhai adalah Haman, orang Agag. Kendati Mordekhai-Haman tidak pernah akur, ternyata sebenarnya Haman adalah "saudara kembar" Mordekhai yang hubungannya sangat dekat dilihat dari asal usul mereka. Haman adalah gambaran "diri sendiri" dari Mordekhai.

Haman menginginkan Mordekhai sujud di hadapan Haman, gambaran keinginan yang penuh hawa nafsu ingin menaklukkan anak-anak TUHAN. Ketika Mordekhai tidak sujud di hadapannya, Haman sangat marah. Kemarahannya sampai mengakibatkan Haman bermaksud memusnahkan seluruh bangsa Yahudi (Mordekhai berkebangsaan Yahudi). "Diri sendiri" baik itu berupa keinginan kita, kebutuhan kita, tindakan kita, jika tidak sesuai dengan Firman TUHAN, berpotensi menghancurkan kehidupan kita. Contoh sederhananya, ajakan deal bisnis di waktu yang seharusnya untuk beribadah kepada TUHAN. Kalau kita tunduk pada ajakan tersebut, berarti kita sudah kalah dan "sujud" pada tawaran bisnis.

1 SAMUEL 15 : 1 - 3 — “ Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-NYA; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi Firman TUHAN. Beginilah Firman TUHAN semesta alam: AKU akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."

Sekarang kita mengalihkan perhatian kepada Saul terlebih dahulu. Samuel menyampaikan pesan TUHAN kepada Saul bahwa Saul diminta membasmi orang Amalek tanpa ampun, tanpa sisa sedikit pun, termasuk membasmi anak-anak dan binatang ternak maupun binatang tunggangan. Siapakah Amalek ? Amalek adalah juga gambaran "diri kita sendiri".

Dalam ayat 2 dijelaskan bahwa orang Amalek menghalang-halangi perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju tanah Kanaan yang dikaruniakan oleh TUHAN. Jangan sampai "diri kita" menghalang-halangi kita untuk menerima berkat TUHAN, menghalangi kita untuk beribadah, sehingga kita tetap diperbudak oleh dunia dan oleh dosa. TUHAN tidak menghendaki kita diperbudak; TUHAN menghendaki kita bebas dan mampu mengalahkan "Amalek".

1 SAMUEL 15 : 7 - 9 — “ Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir. Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka."

Kaitan erat antara Haman, Agag, dan Amalek dapat kita lihat dari 1 Samuel 15:8. Ternyata, Agag adalah raja Amalek yang diperangi Saul. Dan Haman merupakan keturunan Agag, alias keturunan raja Amalek. Musuh Mordekhai dan musuh Saul : Haman, Agag, Amalek berada dalam satu garis keturunan. Ketiganya merupakan musuh terbesar yang menggambarkan keinginan diri sendiri (yang tidak sesuai Firman).

Bukan berarti TUHAN sadis ketika memberi perintah kepada Saul untuk menumpas Amalek secara tuntas, termasuk membunuh bayi-bayi dan anak-anak Amalek. TUHAN mengajarkan kepada kita untuk tegas terhadap diri kita sendiri, untuk mampu menguasai diri kita. Tanpa memiliki penguasaan diri, bagaimana kita mampu menguasai musuh-musuh kita yang lain ? Firman TUHAN untuk menumpas tuntas Amalek tidak dituruti Saul dengan sepenuh hati. Saul "pilih kasih" dengan membiarkan Agag, raja Amalek tetap hidup.

"Diri kita", musuh yang sulit ditaklukkan itu adalah kebutuhan, keinginan, emosi kita. Musuh ini harus kita kuasai. Bukan berarti orang tidak boleh memiliki kebutuhan, keinginan, dan emosi. Orang harus punya emosi, baik itu sedih, marah, dan sebagainya. Tanpa memiliki emosi, hati manusia pasti membatu. Tapi, emosi itu harus kita kuasai. Misalnya ketika marah, marahlah dengan cara yang benar, jangan membiarkan kemarahan itu menyebabkan kita jatuh dalam dosa. Manusia boleh memenuhi kebutuhannya, misalnya kebutuhan akan makan. Tetapi jangan kita "diperbudak" oleh nafsu makan kita. Orang boleh ingin kaya, tapi jangan sampai keinginannya itu sampai melanggar Firman TUHAN.

Di dalam ayat 9, Saul tidak memusnahkan "segala yang berharga" dari yang dimiliki Amalek. Adakah yang berharga di antara Amalek ? Sama sekali tidak ada !!! Saul merasa sayang untuk memusnahkan binatang-binatang yang gemuk, emas, perak dan harta lainnya milik Amalek; Saul menginginkan barang-barang berharga milik Amalek. Boleh-boleh saja menginginkan harta. Tapi, dengan cara yang benar. Bukankah TUHAN mampu memberi emas perak yang jauh lebih banyak daripada harta rampasan Amalek ?

Mengambil sikap "berbelas kasihan" terhadap keinginannya akan harta yang lebih besar dibandingkan keinginannya untuk menuruti Firman TUHAN menunjukkan Saul kalah terhadap Amalek, kalah terhadap keinginan dirinya sendiri. Akibatnya sungguh tragis : TUHAN sendiri menolak dia sebagai raja.

Banyak orang Kristen yang memiliki anggapan yang sama dengan Saul. Mengatakan bahwa keinginannya dalam bekerja atau mencari nafkah itu pasti baik. Nanti dulu. Jika bekerja tanpa kenal waktu, selalu berada di kantor dan tak pernah pulang ke rumah, mengorbankan waktu ibadah pula, keinginan bekerja itu sudah termasuk kategori "Amalek".

Bolehkah orang Kristen memiliki ambisi ? Sebenarnya ambisi adalah keinginan yang kuat. Memang seringkali kata "ambisi" memiliki tendensi negatif. Kita perlu hati-hati terhadap keinginan untuk sukses dan tidak mau melewatkan kesempatan baik. Misalnya dalam berbisnis. Membuka cabang dan divisi baru bisa jadi mengambil waktu yang seharusnya untuk TUHAN. Jangan sampai keinginan, kebutuhan, emosi, apa pun itu, melewati rambu-rambu yang telah digariskan oleh TUHAN sehingga kesuksesan dari TUHAN itu berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan kita karena cara-cara kita yang tidak sesuai Firman dalam mencapai keinginan tersebut.

KEJADIAN 36 : 12 — “ Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau."

Amalek adalah cucu Esau. Dan Esau merupakan saudara kembar Yakub. Jadi nenek moyang Haman dan nenek moyang Mordekhai merupakan saudara kembar, cocok sekali untuk menggambarkan kita dan "diri kita" berikut keinginan, kebutuhan, emosi kita yang jika tak dikuasai akan menjadi musuh besar kita. Tanpa mampu menguasai keinginan, kebutuhan dan emosi, "saudara kembar" kita itu akan menghancurkan hidup kekristenan kita.

Kehidupan Esau yang tunduk pada hawa nafsu telah melahirkan anak cucu dan keturunan yang juga hidupnya tidak benar. Dan ini terus berlanjut sampai zaman Saul, terus berlanjut lagi sampai zaman Mordekhai.

Esau memiliki kebutuhan. Dia merasa sangat lapar pada saat pulang dari berburu. Kebutuhan akan makanan tidak salah dan tidak perlu dihilangkan. Tetapi cara Esau dalam memenuhi kebutuhannya sangat sangat tidak sesuai Firman: menjual hak kesulungan. Hak kesulungan itu anugerah TUHAN bagi anak sulung. Jika kita "menjual" TUHAN demi makanan, demi harta, demi menikah, demi hal-hal lainnya, berarti kita sudah kalah dari "Amalek" dan tidak akan menikmati berkat Kanaan yang berlimpah.

Terdapat perbedaan tipis dalam memenuhi kebutuhan dan mencapai keinginan, tergantung cara yang kita pakai. Cara TUHAN atau cara hawa nafsu. Contohnya, manusia memiliki nafsu seks. Tidak salah, sebab hal itu berasal dari TUHAN dan manusia ditugaskan TUHAN untuk memiliki keturunan. Namun, bila manusia dikuasai oleh nafsunya dan berbuat hal yang di luar Firman TUHAN, sesuatu yang dari TUHAN berubah menjadi "Amalek".

GALATIA 5 : 24 - 25 — “ Barangsiapa menjadi milik KRISTUS YESUS, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh ROH, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh ROH."

Ayat di atas jangan diartikan bahwa orang Kristen tidak boleh punya keinginan sama sekali, atau seluruh keinginannya harus disalibkan. Yang dimaksudkan oleh rasul Paulus dengan "keinginan" di dalam ayat di atas adalah keinginan yang didorong oleh dosa. Misalnya saja keinginannya untuk menjadi sukses, untuk kaya, untuk menikah karena didorong oleh dosa. Keinginan yang tidak sesuai dengan Firman TUHAN itulah yang harus disalibkan. Jadi, bukan keinginannya yang salah. Tapi yang harus diperhatikan adalah landasannya dalam kita menginginkan atau memenuhi kebutuhan kita janganlah berlandaskan hawa nafsu atau dosa. Sebaliknya, jika keinginan dan tindakan kita di dalam pimpinan ROH KUDUS, kita akan melakukan sesuai dengan kehendak ROH. Misalnya, menyanyi untuk memuji TUHAN, memuliakan TUHAN dalam bekerja, dan sebagainya.

Contoh lainnya, sah-sah saja anak-anak TUHAN memenuhi kebutuhannya untuk makan dengan tujuan kesehatan, atau meminjam istilah "makan untuk hidup". Tapi bila kita mengumbar hawa nafsu dan mengaplikasikan "hidup untuk makan" dalam hidup kita sehari-hari, ini berarti sinful nature masih mendominasi hidup kita.

Beratnya, sinful nature itu sudah menjadi bawaan manusia sejak lahir, sudah ada sejak manusia belum memiliki kesadaran akan dosa. Contohnya saja, tanpa diajari untuk berbuat dosa, anak kecil dengan sendirinya memilliki sifat, sikap dan tindakan yang mengarah pada dosa.

Dari tindakan Saul yang membiarkan Agag tetap hidup dan tidak memusnahkan harta Amalek yang dianggapnya berharga, Saul masih dikuasai sinful nature. Dia masih ngiler melihat emas sehingga menjarahnya.

Dengan hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri, sangat sulit bahkan tidak mungkin kita dapat menguasai diri kita sendiri. Pasalnya, sinful nature itu berada di dalam diri kita. Sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin, bukan ? Dan rasul Paulus telah memberikan resepnya untuk menguasai sinful nature seperti yang tercatat dalam Galatia 5 : 25 — “ Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh."

Yang mampu menguasai diri kita adalah yang lebih tinggi dari kita: setan dan TUHAN (ROH KUDUS). Kalau kita dikuasai setan, sudah pasti kita akan hancur seperti Saul. Setan memanfaatkan dunia dan memanfaatkan kelemahan kita untuk menuruti kehendaknya. Sebaliknya, jika kita meminta ROH KUDUS memimpin hidup kita, bersama DIA kita akan mampu menguasai sinful nature kita.

Sudah sejak manusia pertama di taman Eden, setan memancing rasa penasaran atau keinginan Hawa untuk makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dan lebih celakanya lagi, setan juga memancing keinginan Adam dan Hawa untuk menjadi sama seperti TUHAN supaya sepasang manusia pertama itu kalah dan dikuasai oleh keinginan mereka. Sebenarnya, keinginan untuk menjadi seperti TUHAN itu boleh, dan bukan tindakan yang salah. Mari kita renungkan sejenak, kita menjadi anak-anak TUHAN berarti kita "menjadi sama seperti TUHAN", BAPA kita. Hanya saja, gunakan cara yang benar: memakai cara TUHAN, yaitu menjadi anak TUHAN. Jangan mau tertipu oleh setan dan memakai cara setan untuk menjadi seperti TUHAN.

Tiga sampai empat tahun yang lalu, banyak orang tertipu dengan tipuan ini. Ada orang yang mengaku pelaut menjual murah jam tangan merek ternama. Banyak yang tertipu dan membelinya. Mereka tertipu karena ingin dapat untung besar. Keinginan mendapat untung besar ini dimanfaatkan oleh penipu seperti setan menipu Adam dan Hawa. Ini baru tawaran jam tangan palsu yang melibatkan uang. Bagaimana kalau sampai kita tertipu tawaran "Surga palsu" ala setan?

1 SAMUEL 15 : 32 - 33 — “ Lalu berkatalah Samuel: "Bawa ke mari Agag, raja Amalek itu." Dengan gembira Agag pergi kepadanya, sebab pikirnya: "Sesungguhnya, kepahitan maut telah lewat." Tetapi kata Samuel: "Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak, demikianlah ibumu akan kehilangan anak di antara perempuan-perempuan." Sesudah itu Samuel mencincang Agag di hadapan TUHAN di Gilgal."

Sikap yang benar supaya kita dapat menguasai sinful nature adalah seperti yang ditunjukkan Samuel : Agag harus dicincang !!! Kalau kita tidak bersikap tegas terhadap keinginan kita yang tidak sesuai dengan Firman maka kita yang akan tercincang sampai hancur. Jangan ada tawar menawar dengan "Amalek". Agag adalah keturunan Amalek yang kesekian. Namun, Agag tetaplah Amalek, tetap merupakan keturunan Esau yang penuh hawa nafsu.

Dengan gembira Agag mendatangi Samuel yang memanggilnya. Berarti Agag tidak tahu rencana Samuel yang siap dengan pedang untuk mencincang dirinya. Agag malah menganggap Samuel orang yang lembek dan mau kompromi. Untungnya, yang Mahatahu hanya TUHAN ALLAH. "Keinginan diri kita" dan juga setan yang mau menunggangi keinginan kita tidaklah maha tahu.

"Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak" jika diaplikasikan dalam hidup kita adalah bila kita tidak mampu menguasai keinginan kita yang tidak sesuai Firman, keinginan tersebut akan membuat anak-anak, suami/istri, orangtua kita menjadi korbannya. Keinginan diri sendiri yang tidak sesuai Firman itu sangat kejam. Kita banyak membaca atau mendengar berita tentang ayah yang memperkosa anak kandungnya sendiri. Keinginan si ayah yang tak terkendali itu menghancurkan masa depan anak kandungnya sendiri. Dan masih banyak tindakan-tindakan lain yang mengumbar keinginan diri sendiri mengakibatkan orang-orang terdekatnya menjadi korban.

ESTER 9 : 10 — “ kesepuluh anak laki-laki Haman bin Hamedata, seteru orang Yahudi, dibunuh oleh mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan."

Haman bukan saja mencoba memusnahkan Haman seorang, tetapi dia merencanakan membunuh seluruh orang Yahudi. Semua anak TUHAN memiliki musuh yang sama. Jika kita tidak mampu menguasai keinginan diri kita sendiri, kita yang akan mati. Mati di sini berarti di dalam dunia ini kita "mati" alias tidak menikmati berkat TUHAN, dan nantinya mati masuk neraka.

Seperti Samuel, Mordekhai dan Ester bersikap tegas dengan membunuh keturunan Haman, orang Agag itu. Kesepuluh anak laki-laki Haman dibantai tanpa ampun oleh mereka. Sebenarnya yang memiliki rencana jahat untuk memusnahkan seluruh orang Yahudi adalah Haman. Anak-anak Haman tidak ikut terlibat dalam rencana Haman ini. Mengapa mereka harus ikut mati ? Anak-anak Haman - gambaran keinginan yang kelihatannya baik-baik saja - jika tidak dibasmi akan dapat berkembang menjadi besar, tak terkendali, dan akhirnya menghancurkan diri kita sendiri. Karena itu, kita harus bersikap tegas, tak memberikan ruang pada "Haman dan keturunannya".

Dalam mencari solusi agar dirinya dan seluruh umat Yahudi tidak dibantai, Mordekhai tidak mau kompromi. Mordekhai tidak mau tunduk dan menyembah Haman, apapun juga konsekuensi yang harus ditanggungnya. Mordekhai memperingatkan Ester akan musuh yang sulit ditundukkan itu. Bersama Ester dan seluruh orang Yahudi yang terdapat di benteng Susan, mereka kompak memohon pertolongan TUHAN dengan cara berpuasa selama tiga hari supaya tidak dimusnahkan oleh Haman, orang Agag itu.

Bagi Mordekhai dan orang Yahudi zaman itu, "Agag" atau "Amalek" mampu mereka tumpas habis sehingga mereka menang. Hal ini bukan berarti Amalek tidak dapat mengganggu anak-anak TUHAN lagi. Sebab, sepanjang sejarah, setiap orang memiliki "Amalek" di dalam diri kita masing-masing. Setiap kita harus berjuang untuk menguasai "Amalek" agar kita tidak dihancurkan olehnya. Amalek merupakan musuh yang tak mampu kita kuasai dengan kekuatan kita sendiri. Oleh sebab itu, mintalah ROH KUDUS menuntun dan menguasai seluruh aspek di dalam hidup kita.

Dengan meminta tuntunan TUHAN, Mordekhai dan seluruh orang Yahudi lolos dari pemusnahan massal yang dirancang oleh Haman. Bukan itu saja, Haman mendapat kedudukan tinggi, menjadi orang kedua di bawah kedudukan raja Ahasyweros. Begitu pula dengan kita. Dengan tuntunan ROH KUDUS kita akan mampu menundukkan musuh yang sulit ditundukkan, yaitu keinginan diri kita yang penuh hawa nafsu. Kita bukan saja menang melawan musuh, tetapi kita juga akan menikmati berkat-berkat TUHAN, Amin.

Comments