Meraih keberhasilan versi Amazia bin Yoas

2 RAJA RAJA 14 : 1 - 3 — “ Dalam tahun kedua zaman Yoas bin Yoahas, raja Israel, Amazia, anak Yoas raja Yehuda menjadi raja. Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Yoadan, dari Yerusalem. Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, hanya bukan seperti Daud, bapa leluhurnya. Ia berbuat tepat seperti yang diperbuat Yoas, ayahnya.”

Orang yang sombong sering bertingkah aneh-aneh sehingga merugikan dirinya sendiri. Contohnya saja, seperti yang dilakukan Amazia yang tanpa alasan jelas ngotot mengajak perang saudaranya sendiri. Setelah zaman raja Salomo, kerajaan Israel terbelah menjadi dua bagian menjadi kerajaan Israel (di bagian Utara) dan kerajaan Yehuda (di bagian Selatan). Kedua kerajaan ini bersaudara dan sama-sama menyembah TUHAN, dengan demikian keyakinan iman pun seharusnya tidak terpisah hanya karena perbedaan batas wilayah kerajaan. Dalam kehidupan kesehariannya pun seharusnya sama-sama mencerminkan kehidupan anak-anak TUHAN.

Saat itu Amazia anak Yoas naik takhta menjadi raja atas Yehuda, sedangkan Yoas anak Yoahas telah terlebih dahulu menjadi raja Israel dua tahun sebelum Amazia. (Yoas ayah Amazia dan Yoas yang menjadi raja Israel merupakan dua orang yang berbeda). Dengan demikian dapat kita lihat bahwa Yoas dan Amazia sama-sama mengalami keberhasilan dalam hal memiliki jabatan sebagai raja. Dalam usia yang relatif muda, Amazia menjadi raja dan ia memerintah selama 29 tahun atas Yehuda.

Apa yang membuat Amazia mampu meraih keberhasilan ?
Dalam ayat 3 dikatakan: "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN". Dalam dunia ini banyak orang pandai, tapi tidak semuanya dapat meraih kesuksesan yang sejati. Mengapa demikian? Karena kunci sukses terletak pada mau melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ini bukan hanya berbicara pada saat seseorang berada di dalam gereja, melainkan perbuatan dan sikap secara menyeluruh dalam kehidupan kita. Apabila hal ini kita lakukan di sepanjang hidup kita, maka sukses itu akan dapat diraih.

Amazia memerintah sebagai raja selama 29 tahun. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah keberhasilan Amazia ini sudah sesuai dengan standar keberhasilan? Belum. Sebab jika kita membandingkan dengan Daud yang memerintah sebagai raja atas Israel selama 40 tahun, seharusnya Amazia masih dapat menikmati keberhasilan lebih lama lagi. Yang membedakan keberhasilan Amazia dan Daud adalah Daud melakukan apa yang benar di mata TUHAN seumur hidupnya, sedangkan Amazia tidak selama hidupnya.

2 RAJA RAJA 14 : 7 — “ Ia mengalahkan Edom di Lembah Asin, sepuluh ribu orang banyaknya, dan merebut Sela dalam peperangan itu, lalu dinamainyalah kota itu Yokteel; begitulah sampai hari ini."

Ke mana saja Daud pergi berperang, ia berhasil mengalahkan musuh dan meraih kemenangan. Begitu juga dengan Amazia. Ia berhasil mengalahkan Edom serta menduduki sebuah kota yang bernama Sela, kemudian ia mengganti nama kota itu dengan Yokteel. Penggantian nama ini untuk membuktikan bahwa Amazia berhasil menduduki kota tersebut. Kata Yokteel memiliki arti "ditundukkan oleh TUHAN" atau "diserahkan oleh TUHAN untuk aku."

Dari arti nama yang diberikan Amazia terhadap kota yang direbutnya itu menunjukkan bahwa ia mengakui apa yang telah diberikan oleh TUHAN kepadanya. Perbuatan Amazia ini memiliki sisi yang sama dengan apa yang dilakukan Daud. Dalam setiap keberhasilan yang diraihnya, Daud selalu berkata bahwa semuanya itu berasal dari TUHAN.

2 RAJA RAJA 14 : 8 — “ Pada waktu itu Amazia menyuruh utusan kepada Yoas bin Yoahas bin Yehu, raja Israel, mengatakan: "Mari kita mengadu tenaga!"

Ketika Amazia sudah meraih keberhasilan dan wilayah kekuasaannya diperluas oleh TUHAN, ia mulai melakukan sesuatu yang tidak perlu. Perbuatan "aneh" tersebut adalah mengirim utusan kepada Yoas, raja Israel untuk saling berperang. Amazia, justru mengajak saudaranya sendiri untuk berperang. Dan perang yang disodorkannya itu tanpa ada alasan yang jelas. Sebab saat itu kerajaan Israel sama sekali tidak menyerang kerajaan Yehuda. Itu artinya Amazia menyia-nyiakan keberhasilan dari TUHAN. Akibatnya, usia pemerintahannya tidak berumur sepanjang pemerintahan Daud.

Hal seperti ini seringkali terjadi di dalam hidup orang Kristen: keberhasilan yang diraih hanya bersifat sementara. Ini bukan karena TUHAN tidak mencurahkan berkat-NYA secara berkesinambungan atas kita, melainkan karena kita sendiri yang menyia-nyiakan berkat TUHAN tersebut. Contohnya, saat sedang berusaha meraih keberhasilan, kita mampu rukun dengan istri/suami, saudara, tetangga. Tetapi setelah keberhasilan itu diraih, karakter kita yang negatif mulai muncul.

MAZMUR 133 : 1 — “ Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!"

Konsep Daud yang tertuang di dalam Mazmur di atas adalah pentingnya hidup rukun bersama saudara. Bukti dari kecintaan Daud terhadap kerukunan adalah ketika Saul memeranginya, Daud sama sekali tidak membalas peperangan dengan peperangan. Karena sikapnya ini, pada akhirnya Daud yang meraih kemenangan.

Israel dan Yehuda bersaudara. Sikap Amazia yang mengobarkan peperangan melawan saudaranya sendiri jelas bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Daud. Sekalipun ia beribadah seperti Daud, namun ia tidak memiliki kerendahan hati seperti Daud. Dari pelajaran ini, kita harus memperhatikan hidup kita agar tidak seperti Amazia. Bagaimana pula meladeni orang yang memiliki karakter seperti Amazia?

2 RAJA RAJA 14 : 9 - 10 — “ Tetapi Yoas, raja Israel, menyuruh orang kepada Amazia, raja Yehuda, mengatakan: "Rumput duri yang di gunung Libanon mengirim pesan kepada pohon aras yang di gunung Libanon, bunyinya: Berikanlah anakmu perempuan kepada anakku laki-laki menjadi isterinya. Tetapi binatang-binatang hutan yang ada di gunung Libanon itu berjalan lewat dari sana, lalu menginjak rumput duri itu. Memang engkau telah mengalahkan Edom, sebab itu engkau menjadi tinggi hati. Cukuplah bagimu mendapat kehormatan itu dan tinggallah di rumahmu. Untuk apa engkau menantang malapetaka, sehingga engkau jatuh dan Yehuda bersama-sama engkau?"

Ketika Yoas ditantang untuk berperang melawan Yehuda, Yoas tidak melakukan perlawanan, tetapi juga tidak hanya berdiam diri saja. Yang ia lakukan adalah memberikan nasihat kepada Amazia dengan menggunakan sebuah pantun yang lembut namun memiliki makna yang dalam.

Dalam pantun ini disebutkan tentang rumput duri dan pohon aras yang ada di gunung Libanon. Artinya, keduanya sama-sama di tempat yang tinggi dan merupakan satu rumpun bangsa yang sama. Namun yang satu digambarkan dengan rumput duri, dan yang lainnya digambarkan dengan pohon aras. Rumput duri menggambarkan Amazia raja Yehuda, sedangkan pohon aras menggambarkan Yoas raja Israel. Tepatlah Amazia digambarkan dengan rumput duri, orang yang punya ide untuk memulai pertengkaran atau peperangan. Orang yang tidak menyukai perdamaian pada akhirnya akan kalah, digambarkan dengan rumput duri yang dinjak-injak oleh binatang-binatang hutan.

Melalui perkataannya: "Memang engkau telah mengalahkan Edom...", Yoas mengakui bahwa Amazia juga telah meraih keberhasilan. Namun keberhasilan itulah yang menjadikan Amazia tinggi hati. Kesombongannya itu juga yang membuat ia "tidak suka tinggal di rumah", yakni lebih suka mencari gara-gara di luar. Karena itu Yoas menasihatkan Amazia agar merasa puas dan "tinggal di dalam rumah" untuk menikmati kemenangan yang telah diraihnya itu. Yoas juga mengingatkan bahwa jika Amazia tetap maju menantang perang, maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga seluruh rakyat Yehuda.

Hal yang sama juga dapat terjadi dalam kehidupan kita. Satu orang dalam keluarga yang karakternya seperti Amazia berpotensi menyebabkan kekacauan dalam rumah tangga. Karena ulahnya, maka seisi rumahnya menanggung akibat buruk.

2 RAJA RAJA 14 : 11 - 12 — “ Tetapi Amazia tidak mau mendengarkan, sebab itu majulah Yoas, raja Israel, lalu mengadu tenagalah mereka, ia dan Amazia, raja Yehuda, di Bet-Semes yang termasuk wilayah Yehuda. Yehuda terpukul kalah oleh Israel, sehingga masing-masing lari ke kemahnya."

Sekalipun Yoas sudah memberikan nasihat, Amazia- tetap tidak mau mendengarkan nasihat tersebut. Amazia tetap maju berperang untuk mengadu kekuatannya dengan Israel. Akibatnya, ia dan pasukannya terpukul kalah oleh Israel.

Seringkali kita mengalami kegagalan bukan karena TUHAN tidak memberikan nasihat. Melainkan karena kesombongan, kita tidak mau mendengarkan Firman TUHAN. Sebaliknya, orang yang mau mendengarkan nasihat adalah orang yang rendah hati. Amazia yang sombong itu sangat berbeda dengan Daud yang memiliki kerendahan hati begitu rupa. Ketika Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan dan nabi Natan menegurnya, Daud tidak mengambil pedang untuk membunuh Natan. Justru sebaliknya, ia bersujud di hadapan TUHAN kemudian memohon ampun kepada-NYA. Itu sebabnya masa pemerintahan Daud sebagai raja jauh lebih lama dibandingkan Amazia. Sekalipun pernah jatuh ke dalam dosa, tetapi hal itu tidak memperpendek umur keberhasilan Daud. Mengapa? Karena ia memiliki kerendahan hati sehingga ia mau menerima teguran dan nasihat dengan sungguh-sungguh.

Ketika kita datang ke gereja, jangan hanya sekadar datang untuk "setor muka". Tetapi milikilah kerendahan hati untuk mau mendengar dan menerima nasihat Firman TUHAN. Sebab orang yang tinggi hati punya kemampuan untuk mendengar nasihat. Tetapi, ia tidak mau menerima atau menjalankan nasihat yang telah didengarnya itu.

ALLAH tidak membela kerajaan Israel maupun Yehuda yang berperang ini. Yang menderita kekalahan dalam peperangan ini adalah Yehuda yang dipimpin Amazia. Sebenarnya kekalahan tersebut bukan karena pasukan Amazia kalah kuat atau kalah jumlah, tetapi lebih disebabkan oleh kesombongan Amazia. Kekalahan ini sudah diramalkan oleh Yoas melalui nasihatnya bahwa rumput duri itu bukan dikalahkan pohon aras, tetapi karena diinjak-injak binatang liar.

Sebenarnya, Yehuda merupakan sebuah lambang kemenangan. Analogi ini kita dapatkan dari perkataan yang menyebutkan "YESUS KRISTUS adalah Singa dari Yehuda". Yehuda adalah kerajaan yang dikokohkan ALLAH sendiri, tetapi pada kenyataannya justru sebaliknya. Amazia raja Yehuda itu menderita kekalahan. Aplikasinya dalam hidup kita adalah seperti apa pun status kekristenan seseorang, hal tersebut tidak dapat menjamin ia akan meraih kemenangan apabila di dalam hidupnya penuh dengan kesombongan.

LUKAS 10 : 39 — “ Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki TUHAN dan terus mendengarkan perkataan-NYA."

Mendengarkan nasihat yang dikatakan TUHAN adalah sesuatu yang sangat penting untuk meraih keberhasilan dalam hidup kita. Apa yang harus kita perbuat agar dapat mendengar nasihat Firman dengan baik? Salah satunya adalah dengan cara duduk diam merendahkan diri di bawah kaki TUHAN seperti yang dilakukan Maria. Dengan bersikap demikian, sudah dapat dipastikan bahwa kita dapat mendengarkan Firman TUHAN dengan sangat baik. Amazia menjadi sombong karena tidak mampu merendahkan diri di hadapan TUHAN; Amazia tidak mau mendengarkan Firman TUHAN melalui Yoas. Dengan bersikap demikian, Amazia pada akhirnya justru mati sia-sia.

Dalam perjalanan bersama murid-murid-NYA, TUHAN YESUS sampai di Betania dan diundang oleh Marta ke rumahnya. Sebagai tuan rumah yang baik, Marta melayani YESUS KRISTUS sedemikian rupa, sedangkan Maria yang bukan pemilik rumah duduk diam mendengarkan perkataan YESUS KRISTUS. Itulah yang menjadi penyebab Marta menjadi kesal kepada Maria. Tetapi TUHAN YESUS justru berkata bahwa Maria sudah mengambil bagian yang terbaik. Apa yang dikerjakan oleh Marta adalah sesuatu yang baik. Tetapi di hadapan YESUS KRISTUS, Maria melakukan yang terbaik. Mengapa demikian? Karena di balik perbuatan baiknya, Marta justru membenci saudaranya sendiri. Hal ini sama dengan yang diperbuat oleh Amazia yang membenci Yoas, saudaranya sendiri. Bangsa Israel maupun bangsa Yehuda adalah bersaudara, sama-sama keturunan Israel. Akibat kebenciannya, Amazia menantang Yoas untuk berperang.

TUHAN memuji orang yang mau merendahkan diri dengan duduk diam di dekat kaki TUHAN untuk mendengarkan nasihat Firman-NYA. Seharusnya, merendahkan diri untuk mendengarkan nasihat Firman menjadi tujuan hidup kita. Standar TUHAN pastilah sangat tinggi, bukan standar yang biasa digunakan di dunia ini. Jika TUHAN memuji kita, pastilah merupakan kebanggaan tiada taranya bagi kita.

Dalam dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, tetapi kita akan dapat meraih keberhasilan yang sempurna jika mau menerima nasihat ataupun teguran. Selain mampu mencapai keberhasilan yang sempurna, orang yang mau menerima teguran akan menjadi orang yang pandai. Gambarannya, seorang pelajar di sekolah yang tidak mau mendengarkan pengajaran yang disampaikan oleh gurunya, sudah pasti murid tersebut tidak akan pernah memperoleh kepandaian. Sekalipun ia memiliki IQ tinggi, namun jika ia sombong sehingga tidak mau mendengarkan apa yang diajarkan gurunya, maka ia tidak memiliki pengetahuan.

2 RAJA RAJA 14 : 13 - 14 — “ Yoas, raja Israel menangkap Amazia, raja Yehuda, anak Yoas bin Ahazia, di Bet-Semes. Lalu Yoas masuk ke Yerusalem, dan membongkar tembok Yerusalem dari Pintu Gerbang Efraim sampai ke Pintu Gerbang Sudut, empat ratus hasta panjangnya. Sesudah itu ia mengambil segala emas dan perak dan segala perkakas yang terdapat dalam rumah TUHAN dan dalam perbendaharaan istana raja, juga orang-orang sandera, kemudian pulanglah ia ke Samaria."

Pada usia pemerintahan raja Amazia yang kedua puluh sembilan, ia ditangkap oleh Yoas, raja Israel. Pertanyaannya adalah: apakah TUHAN yang menetapkan usia pemerintahan hanya sepanjang 29 tahun? Tidak. Yang menyebabkan masa pemerintahannya tidak begitu panjang adalah karena Amazia sendiri yang sombong dan tidak mau mendengarkan nasihat yang disampaikan Yoas kepadanya. Seandainya Amazia memiliki kerendahan hati sehingga ia mau mendengarkan apa yang dikatakan Yoas, besar kemungkinan masa pemerintahannya akan lebih panjang dari 29 tahun. Kalau Amazia mau mendengarkan nasihat, seluruh Yehuda tidak harus menanggung akibat dari kesombongan Amazia. Sebab setelah Yehuda dikalahkan, Yoas membongkar tembok Yerusalem, ia merampas segala emas dan perak dalam perbendaharaan istana dan ia juga menjarah segala perkakas dalam Bait ALLAH. Tidak hanya dijarah harta bendanya, tetapi juga orang-orang Yehuda ditangkap dan dijadikan budak oleh Yoas, padahal mereka bersaudara. Jadi, yang menanggung kerugian adalah seluruh kerajaan Yehuda dan bait ALLAH.

Begitu juga dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Jika salah satu (suami atau istri) tinggi hati dan tidak mau mendengarkan Firman TUHAN, maka yang mengalami kerugian bukan hanya pasangan suami istri tersebut, tetapi juga seisi rumahnya (termasuk anak-anak). Bahkan, Nama TUHAN juga akan menjadi salah satu pihak yang dirugikan, sebab dia menjadi batu sandungan bagi orang lain.

MAZMUR 133 : 2 - 3 — “ Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya."

Ayat di atas adalah salah satu kunci keberhasilan Daud. Sedangkan Amazia justru melakukan yang sebaliknya dari ayat di atas. Dalam ayat di atas, Daud menitikberatkan kehidupan yang rukun antara saudara. Orang yang mau hidup rukun adalah orang yang memiliki kerendahan hati, mau menerima teguran, maka orang itu seperti minyak yang baik atau berharga (precious oil) atau di dalam hidupnya ada berkat. Bagi orang Israel minyak yang berharga itu biasanya dituangkan di atas kepala, sehingga meleleh ke janggut, leher jubah bahkan terus mengalir hingga ke mana-mana. Itu artinya satu orang yang hidupnya seperti Daud yang rendah hati, mau memelihara kerukunan, dan mau menerima nasihat, maka berkat ALLAH akan dicurahkan bukan hanya sampai kepada orang itu saja, tetapi juga akan terus mengalir dan dinikmati oleh orang-orang di sekelilingnya.

Digambarkan oleh Daud dalam ayat 3, kerukunan mendatangkan kesejukan seperti embun gunung Hermon. Kesombongan sangat rawan menghadirkan suasana panas. Sebaliknya, orang yang rendah hati mampu menghadirkan kesejukan suasana bagi orang-orang di sekitarnya. Daud meneruskan ayat 3 bahwa embun itu mengalir turun ke atas gunung-gunung Sion. Artinya kesejukan itu tidak hanya mengalir dan membasahi gunung Hermon yang puncaknya bersalju, tetapi juga mengalir ke gunung-gunung (bukit-bukit) Sion yang letaknya lebih rendah dari gunung Hermon. Kesejukan itu mengalir secara luas ke tempat yang lain, yakni kepada orang-orang yang sama-sama memiliki kerendahan hati.

Apakah kita rindu untuk "mencari" berkat-berkat TUHAN ?
Konotasi "mencari" berkat yang dimaksudkan di sini adalah memperebutkan berkat, melakukan segala upaya untuk mendapatkan berkat. Sebenarnya tidak perlu mencari berkat. Ketika kita memiliki kerendahan hati, maka secara otomatis berkat-berkat TUHAN itu akan dicurahkan ke atas kita. Hal ini dipertegas dalam kalimat selanjutnya: "Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat..." Artinya, tanpa harus mencari berkat, ketika seseorang memiliki kerendahan hati, maka- TUHAN akan memerintahkan berkat-NYA mengalir seperti minyak yang berharga yang mengalir dari kepala turun sampai ke seluruh tubuh atau seperti embun dari gunung Hermon yang mengalir sampai ke bukit Sion. Jadi, jika berkat itu "diperintahkan" oleh TUHAN, maka tanpa harus berebut berkat itu akan datang menghampiri hidup kita sesuai dengan perintah TUHAN.

Selain berkat-berkat diperintahkan TUHAN memenuhi orang yang hidupnya seperti Daud, TUHAN juga memberikan umur yang panjang. Itu sebabnya Daud dapat menikmati keberhasilan selama 40 tahun pemerintahannya atas Israel. Daud menikmati semua berkat yang berasal- dari TUHAN sebab ia mau mendengarkan nasihat Firman TUHAN dan melakukannya sehingga ia meraih keberhasilan sepanjang umurnya.

Milikilah kehidupan yang sama seperti Daud yang rendah hati, mau hidup rukun dan hidup sesuai dengan Firman TUHAN, maka kita akan menjadi orang-orang yang diberkati dan memiliki hidup untuk selama-lamanya dalam berkat TUHAN. Tuhan Berkati kita .........

Comments