Pujian dan Penyembahan 3


Keluaran 30 menuliskan tentang mezbah emas dan pembakaran ukupan tempat dupa di bakar. Pembakaran ukupan tempat dupa dibakar itu berada di Ruang Kudus, tepat dibagian luar tabir yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus. Di mezbah itu, Harus, sebagai imam harus membakar dupa yang wangi setiap hari ketika ia menjalankan tugasnya. Pada akhir ayat 35 dituliskan bahwa ukupan yang dibakar itu "digarami, murni, kudus." Dupa itu dikategorikan sebagai sesuatu yang kudus bagi Allah dan dikhususkan untuk satu tujuan. Bahasa Ibrani untuk parfum adalah 'qetoreth' yang artinya dupa atau parfum, tetapi arti lainnya adalah "asap yang wangi dari persembahan'.


Ruang Maha Kudus adalah tempat Tuhan berjumpa dengan imam besar yang mewakili bangsa Israel. Jadi jika Ruang Maha Kudus tempat dimana Tuhan hadir di antara umat Israel, jadi tabir yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus adalah pintu depannya Tuhan. Hal itu membuat pembakaran ukupan menjadi bel pintu bagi Musa dan Harun. Dupa yang dibakar secara terus menerus naik dari mezbah pengorbanan adalah bau yang menyenangkan Tuhan dan menggambarkan bahwa bangsa Israel mentaati perintah Tuhan tentang Tabernakel.

Apa artinya hal di atas bagi kita yang hidup di jaman ini? Setiap bagian Tabernakel di Perjanjian Lama menunjuk kepada Kristus dan pengorbanannya di kayu salib. Ketika Yesus Kristus mati di salib, tabir pemisah di bait Allah robek menjadi dua - menyatakan bahwa pintu depan rumah Tuhan kini selalu terbuka kepada semua yang mau menerima Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya.

Dalam Wahyu 5:8 juga dituliskan tentang dupa ini, "Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa/ibadah/penyembahan orang-orang kudus." Itu dia. Kemenyan, yang dibakar secara terus menerus oleh Harun di Perjanjian Lama, menunjuk kepada doa yang kita naikan kepada Tuhan. Doa-doa kita, adalah seperti dupa, yang harus digarami, dimurnikan dan kudus. Hal itu adalah asap yang harum dari persembahan dan bau yang menyenangkan Tuhan.

Ibadah/Penyembahan kita seharusnya selalu dinaikkan dengan penuh rasa hormat dan kagum kepada Tuhan. Ibadah/Penyembahan seharusnya murni dan berasal dari dalam hati yang rindu menyenangkan Tuhan dan mentaati perintah-Nya. Terkadang Ibadah/penyembahan kita juga pengorbanan, terutama saat kita berdoa menurut kehendak Tuhan dan bukan kehendak kita sendiri.

"Ibadah/penyembahan tidak membentuk kita melakukan perkara besar, Ibadah/penyembahan itu sendiri adalah perkara besar." Yesus tahu hal ini dan menunjukkan kepada kita ketergantungan Dia sepenuhnya kepada Ibadah/penyembahan khususnya Ibadah/penyembahan pribadi dalam berbagai hal yang Ia lakukan selama melayani di bumi ini. Lukas 5:16 menyatakan kepada kita, "Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa." Lukas mencatat bahwa doa Yesus di Taman Getsemani menggambarkan kepada kita pentingnya doa dalam kehidupan Yesus. Dalam pasal itu kita mendapati Yesus tidak hanya berlutut sebelum menghadapi pengkhianatan dan penyaliban, namun Dia juga meminta Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk berdoa sehingga mereka tidak jatuh ke dalam pencobaan. Yesus tahu betapa pentingnya doa dalam kehidupan anak-anak Tuhan.

Marilah kita dengan tetap semangat atau penuh gairah datang beribadah/menyembah kepada Tuhan dengan kerinduan bau harum ibadah kita sampai kita mengalami perjumpaan yang menugubahkan dengan Tuhan Yesus Kristus....

Comments