Matius 21 Ayat 33 Sampai 46 .... Para Penggarap Kebun



Perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini dengan mudah diterima oleh pendengar-Nya. Perumpamaan ini menggambarkan satu situasi nyata di mana seorang pemilik tanah yang bertempat tinggal di lain tempat sekali-sekali mengirim seorang hamba untuk mengumpulkan bagian sebagaimana mestinya dari penghasilan tahunan kebun anggurnya. Para pendengar mengetahui keadaan yang digambarkan oleh Yesus di dalam perumpamaan ini; mereka dapat membayangkan akhir dari kisah ini dan menyetujui pelaksanaan peradilan.

Tuhan Yesus menujukan perumpamaan ini kepada imam-imam kepala, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka pasti cepat memperhatikan kutipan dari nubuat nabi Yesaya: Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya:

* Yesaya 5:1-2
5:1 Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.
5:2 Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.


Orang Yahudi hafal lagu ini; mereka telah mempelajarinya di kebaktian penyembahan di Sinagoga di mana mereka kadang menyanyikannya[11]. Mereka juga mengenal akhir dari lagu ini:

* Yesaya 5:7
Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.


Para pemimpin agama khususnya mengetahui bahwa perumpamaan ini ditujukan kepada mereka. Mereka menyadari bahwa Yesus menunjuk kepada nabi-nabi yang telah diutus Allah kepada bangs a Israel. Beberapa dari nabi-nabi ini dibunuh karena berita yang mereka bawa. Salah satunya adalah Zakharia, yang dibunuh di an tara tempat kudus dan mezbah (2Tawarikh 24:20, 21; Matius 23:35). Dengan mahir Yesus mengajar arti dari perikop Perjanjian Lama yang sudah dikenal ini kepada pendengar-Nya. Ketika Yesus berbicara mengenai anak pernilik kebun yang telah diutus ke kebun anggur dan dibunuh oleh para penggarap kebun, sebenarnya Dia bernubuat tentang kematian-Nya yang akan datang[12].

Tuhan Yesus bertanya kepada pendengar-Nya, "Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?" Dia menggunakan kata-kata yang menyerupai kata-kata di dalam Nyanyian tentang Kebun Anggur (Yesaya 5:4, 5). Kata-katanya ditujukan kepada para pemimpin. Mereka telah menolak berita yang disampaikan Yohanes Pembaptis, dan mereka menanyakan kuasa Yesus dengan tujuan untuk menentang Dia secara terbuka. Sebenarnya, mereka menolak utusan Allah yang terakhir[13].

Jawaban terhadap pertanyaan Yesus adalah bahwa ganti rugi yang cepat akan dibagikan kepada para penggarap yang kejam. Mereka akan dibunuh dan kebun anggur itu akan disewakan kepada penggarap-penggarap yang lain[14].

Yesus menyerukan langsung Mazmur 118 kepada kumpulan orang ban yak, sebuah perikop dalam Alkitab yang dikenal oleh semua orang yang datang berdoa ke Yerusalem pada pesta perayaan Paskah. Mazmur ini dinyanyikan pada hari yang sudah ditetapkan selama pesta itu. Orang-orang yang ikut menyanyikan lagu-Iagu di dalam paduan suara adalah imam-imam, peziarah, dan kaum proselit yang menyanyikan puji-pujian Mazmur di depan pintu gerbang Bait Sud. Paduan suara para peziarah menyanyikan bagian Mazmur yang mengatakan ten tang batu yang ditolak oleh tukang bangunan, tetapi menjadi batu penjuru (Mazmur 118:22-25) [15]. Dengan menunjuk kepada Mazmur yang terkenal ini dan khususnya ayat-ayat yang berhubungan dengan batu yang ditolak oleh tukang bangunan, Yesus bertanya kepada para pendengar apakah mereka tidak pernah membaca di dalam Kitab Suci bahwa:

* Mazmur 118:22-23
118:22 Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.
118:23 Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. [16]


Pertanyaan ini diajukan oleh Yesus dan harus dijawab dengan pernyataan yang positif, yaitu: ya. Yesus mengalihkan perumpamaan dari penggarap-penggarap kebun anggur yang menolak para hamba ke tukang-tukang bangunan yang menolak batu. Dengan membunuh anak itu, penggarap-penggarap kebun anggur telah menghancurkan diri mereka sendiri, dan dengan membuang batu yang kemudian menjadi batu penjuru, tukang-tukang bangunan membuat diri mereka tampak bodoh. Karena perbuatan Tuhan, batu tersebut menjadi batu penjuru di bagian lengkungan atap sebuah bangunan. Semula, batu tersebut menunjuk ke salah satu bangunan dari kompleks bangunan di dalam bait Suci Salomo yang menjadi dasar di dalam bangunan. [17]

Yesus menyatakan bahwa Dirinya adalah personifikasi dari anak pemilik kebun, juga sebagai batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Selanjutnya, ahli-ahli Taurat dan pemimpin-pemimpin agama yang lain adalah penggarap-penggarap kebun anggur dan sebagai tukang-tukang bangunan yang membuang batu penjuru itu. Jadi Yesus berbicara ten tang kematian-Nya yang sudah dekat dan kemuliaan yang akan datang.


Theologi :


Perumpamaan ini memiliki fokus kristologis tertentu sebagaimana ditulis oleh penulis-penulis Injil. Pembunuhan terhadap anak pemilik kebun anggur menyebabkan kematian penggarap-penggarap kebun anggur yang tidak dapat dihindarkan, dan penolakan batu itu menyebabkan kemuliaan yang mengagumkan. Karena itu, perumpamaan ini mengajarkan gambaran yang paralel dengan penolakan terhadap anak pemilik kebun dan penolakan terhadap batu[18]. Kedua gambaran ini melukiskan Anak Allah.

Matius tampaknya mengisyaratkan adanya dua kelompok nabi, yaitu nabi-nabi pendahulu dan nabi-nabi terakhir, dengan menyebutkan dua kelompok hamba yang diutus secara terpisah oleh pemilik kebun untuk mengumpulkan bagian hasil kebun anggur. Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai anak pemilik kebun tersebut. Tetapi Markus dan Lukas menyebutnya sebagai "anakku yang kekasih" yang melahirkan konotasi sebagai Anak Tunggal[19].Sebutan "anakku yang kekasih" digunakan pada waktu pembaptisan Yesus dan pada saat Yesus berubah rupa ketika dimuliakan di atas gunung. Juga, Markus menulis bahwa pemilik kebun itu mengutus anaknya di urutan paling akhir. Kata paling akhir jelas sekali digemakan di dalam ayat-ayat pembukaan dari surat kepada orang Ibrani, "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada." (Ibrani 1:1, 2, lihat artikel Ibrani pasal 1 : Yesus Kristus Lebih Tinggi).

Lebih lanjut Markus mengatakan bahwa anak pemilik kebun itu dibunuh di dalam kebun anggur, Matius dan Lukas menulis bahwa penggarap-penggarap kebun anggur mengambil anak tersebut, melemparkannya ke luar kebun anggur, dan kemudian membunuh dia. Implikasinya adalah penggarap-penggarap kebun meninggalkan tubuh anak itu di sana, sehingga kalau ada orang yang melihatnya, mereka akan datang dan menguburkan anak yang sudah dibunuh itu. Sekali lagi pembaca merasakan gema di dalam surat kepada orang Ibrani: "Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri" (Ibrani 13:12).

Jika perumpamaan ini berakhir dengan kematian si anak dan kedatangan pemilik tanah ke kebun anggur, maka pengorbanan nyawa si anak menjadi tidak meyakinkan. Pemilik tanah dapat datang ke kebun anggur segera setelah hamba-hambanya dianiaya. Kemuliaan anak tidak dapat dilukiskan dengan perumpamaan ini, tetapi melalui motif penolakan di mana perumpamaan ini oleh Yesus dihubungkan dengan Mazmur 118. Kutipan Kitab Mazmur ini menyatakan bahwa batu yang dibuang itu diberikan tempat yang paling penting dari semua batu yang ada di dalam kompleks bangunan. Tuhan telah mengangkat batu penjuru itu ke tempat yang mulia.

Dengan sengaja Yesus menjalin perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur dengan perumpamaan ten tang batu yang dibuang dengan mengatakan, "Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk" (Matius 21:43, 44)[20]. Kerajaan Allah menjadi kebun anggur di mana orang-orang lain mengusahakan buahnya. Pada saat yang sama, batu yang dibuang itu menghancurkan dan meremukkan lawan-Iawan si Anak. "Kebun anggur" dan "batu bangunan" merupakan metafora yang dapat dimengerti dengan mudah oleh pendengar yang terlatih secara teologis oleh pemimpin-pemimpin agama. Dari nubuat nabi Yesaya mereka mengetahui "Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya" (Yesaya 5:7). Dan dari nubuat yang sarna mereka mengetahui bahwa "Tetapi TUHAN semesta alam ... Ia akan menjadi tempat kudus ... menjadi batu sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu ... dan banyak di antara mereka akan tersandung, jatuh dan luka parah, ... " (Yesaya 8:13-15) [21].

Pokok dari perumpamaan dan kutipan dari Mazmur ini tidak lepas dari pemimpin-pemimpin agama. Ketiga penulis Injil menulis "mereka mengetahui bahwa Yesus telah mengatakan tentang perumpamaan itu untuk menentang mereka." Kenyataannya, mereka diremukkan oleh Anak yang mereka tolak, tetapi yang dimuliakan oleh Allah.


Penerapan :


Jelas sekali bahwa perumpamaan ini ditujukan kepada imam-imam kepala, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan pemimpin-pemimpin. Mereka dilukiskan sebagai penggarap-penggarap kebun anggur yang jahat dan juga sebagai tukang-tukang bangunan yang berat sebelah. Mereka melawan pemilik kebun anggur, mereka membunuh anaknya, dan mereka menolak batu penjuru. Mereka memilih bermusuhan dengan Allah dan anak-Nya. Mereka mendapatkan kekalahan yang menghancurkan dan kematian yang tiba-tiba.
Apakah maksud dari perumpamaan ini? Yesus mengajarkan tentang kesabaran Allah yang tidak terbatas, yang diberikan juga kepada mereka yang melawan Dia. Tetapi ketika Anak-Nya ditolak maka kesabaran-Nya berakhir, dan Allah segera menuntut pertanggungjawaban mereka.

Bacaan ini memberitakan sebuah pesan ten tang jaminan dan kepercayaan kepada pengikut Yesus yang setia. Meskipun gereja mengalami masa-masa perlawanan, Yesus Kristus adalah Raja Abadi yang kemenangannya pasti.

Semoga bermanfaat....

Comments