Peran bapa dalam keluarga

Kualitas hidup Ayub menurut kesaksian Alkitab:
·       Saleh – bicara tentang hidup seorang pria yang berintegritas, memiliki moral dan etika yang bersih/murni
·       Jujur – hidup apa adanya, tepat yang sebenarnya, tidak manipulatif/rekayasa di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia
·       Takut akan Allah – mengakui Allah sebagai Penguasa Tunggal dalam hidupnya dan menyadari kehadiran Allah 24 jam sehari dalam hidupnya sehingga takut untuk berbuat dosa/mencemari kekudusan Allah dalam hidupnya sehari-hari. Tandanya: melakukan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari
·       Menjauhi kejahatan – sama sekali tidak mau dekat-dekat apalagi berjalan dalam jalan kejahatan. Bagaimana ia tahu kalau itu kejahatan dan menjauhinya? Karena ia hidup dalam jalan kebenaran.
Sebelum Alkitab menjelaskan tentang apa yang ia miliki sebagai seorang ayah, sebagai orang terkaya di daerah timur, Alkitab menjelaskan terlebih dahulu kualitas karakternya sebagai ‘seorang laki-laki/pria’…. “Ada seorang laki-laki…”
Pria-pria, yang pertama-tama Tuhan lihat dalam hidupmu bukanlah berapa banyak jumlah anakmu, berapa banyak jumlah hartamu, berapa tinggi jabatanmu, tetapi yang pertama-tama Tuhan perhatikan adalah karaktermu. Itu yang mengesankan Tuhan. Bahkan Tuhan memuji Ayub di depan Iblis (ayat 8). Kalimat itu bisa saja diucapkan Tuhan di hadapan Iblis dengan penuh kebanggaan ”Ada seorang laki-laki di BSD. Apa-kah engkau memperhatikannya?”. “Ada seorang laki-laki di Bintaro Jaya, apakah eng-kau memperhatikannya?” “Ada seorang laki-laki di Bekasi 3, apakah engkau mem-perhatikannya?”, dan seterusnya. Baru kemudian Alkitab menjelaskan bahwa ternyata seorang laki-laki ini adalah seorang ayah, karena ia mendapat 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Tujuan pernikahan Kristen bukan hanya mempunyai anak. Anak adalah anugerah dari Tuhan. Walaupun ada pria yang sudah menikah belum dianugerahi keturunan, tetapi kalau ia memiliki kualitas karakter seorang laki-laki seperti Ayub tadi maka ia akan bisa menjadi bapak bagi orang-orang di sekitarnya. Jadi pelajaran pertama yang kita terima adalah: Tugas seorang ayah yang efektif dimulai dengan hubungan pribadi seorang laki-laki dengan Tuhannya.
Mengapa karakter seorang laki-laki penting?  Kejadian 5:1-3: 1 Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; 2 laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama "Manusia" kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. 3 Se-telah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Adam dan Hawa diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Tetapi kemudian mereka jatuh ke da-lam dosa. Dan kemudian Adam memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya. Dalam setiap kasus, entah sedang berbicara tentang Tuhan dan manusia atau tentang orang tua dan anak-anak mereka, kata “gambar” dan “rupa” tidak hanya berurusan dengan sekedar penampilan lahiriah; kata-kata itu berhubungan juga dengan dengan kualitas-kualitas internal (karakter). Dari perintah semula yang Tuhan berikan kepada manusia (suami-istri) untuk beranak cucu, berlipat ganda dan meme-nuhi bumi, kita dapat mengidentifikasikan tiga sasaran dasar tugas orang tua:
1.      Mereproduksi sifat alami orang tua dalam diri anak
Ketika Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, Ia bermaksud supaya kita memiliki dan mencerminkan sifat alami-Nya. Seharusnya demikianlah ki-ta sebagai orangtua terhadap anak-anak kita. Sifat alami kita pastilah sifat yang penuh dengan kebaikan karena Tuhan menciptakan kita sungguh sangat baik. Ka-lau seorang ayah pemarah, penuh dengan kekerasan, itu bukan sifat alami yang dari Tuhan. Kalau tidak segera bertobat, sifat buruk itulah yang akan tereproduksi dalam diri anak-anak.
2.     Mereproduksi karakter orang tua dalam diri anak
Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, berarti juga kita diciptakan seperti karakter Tuhan, kita berpikir seperti Yesus dan memperlihatkan karakter-Nya yang mulia. Demikian juga orang tua menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi seperti mereka: memegang nilai-nilai yang sama, respon yang sama terhadap masalah. Kalau nilai-nilai yang kita anut tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, cara kita berespon terhadap masalah tidak benar, maka itulah yang akan tereproduksi dalam diri anak
3.     Mereproduksi tingkah laku orang tua dalam diri anak
Ketika Tuhan menciptakan kita, Ia ingin anak-anak-Nya bertindak sama seperti Dia dalam segala hal. Cara memperlakukan orang lain, cara mengasihi, cara melayani, dll. Demikianlah orang tua dengan anak-anaknya. Tingkah laku yang bagaimana yang anda inginkan untuk direproduksi oleh anak-anak anda?
Karakter seorang laki-laki penting karena ia jadi model bagi anak-anaknya. Ia diberi tanggung jawab dan otoritas untuk mereproduksi hidupnya bagi keturunannya. Kalau seorang laki-laki ingin kemuliaan Allah yang tereproduksi dalam hidup anak-anaknya dan keturunannya, maka pilihan satu-satunya ialah ia harus hidup dalam kemuliaan Allah. Anak-anak tidak perlu ayah yang sempurna, anak-anak hanya butuh seorang ayah yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Dan itu yang akan mereka reproduksi dalam hidup mereka.
Apa yang Ayub lakukan sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya yang perlu kita teladani di zaman ini?
1.         Ayub memanggil mereka
·         Ayub punya otoritas atas hidup anak-anaknya karena ia ayah yang berintegritas. Ketika ia memanggil, anak-anaknya taat untuk datang dan mendengarkan dia. Para ayah harus berusaha mendapatkan penghormatan itu dari anak-anaknya, bukan dengan kekerasan tetapi dengan menampakkan karakter pria yang berintegritas dan takut Tuhan.
·         Ayub menyediakan waktu untuk anak-anaknya, untuk peduli atas hidup anak-anaknya. Dia melihat bahwa hidup anak-anaknya lebih penting dari harta bendanya
·         Ayub punya hubungan (relasi)dengan anak-anaknya yaitu: 1. Komunikasi. Tentu Ayub memanggil mereka dan ada percakapan di antara mereka. Percakapan antara ayah dan anak, bukan bos dan anak buah.  Jangan me-nunggu ada krisis dulu baru memanggil anak-anaknya. Ini adalah kebiasaan yang tetap (regular custom, gaya hidup sehari-hari) yang Ayub terapkan. 2. Menunjukkan dengan nyata kasihnya kepada anaknya. Semua ayah pasti mengasihi anak-anaknya tetapi tidak semua ayah tahu cara meng-ekspresikan kasihnya untuk anak-anaknya. Kadang kala anak-anak  tidak perlu nasihat yang panjang lebar, mereka hanya butuh mendengarkan kalimat, “Ayah mengasihimu, nak” dan sebuah pelukan hangat. Berapapun usia anak anda, dia perlu sering kali dipeluk. Ada sebuah kekuatan dalam pelukan. Satu tindakan kasih lebih bernilai daripada ribuan kata-kata. 3. Meneguhkan. Ketika seorang ayah memanggil anak-anaknya, seharusnya ada peneguhan yang ia berikan untuk anak-anaknya. Peneguhan itu bisa berupa kata-kata dorongan, pengharapan, dukungan, kepercayaan. Anak-anak bertumbuh, menjadi dewasa dan mencapai potensi mereka saat mereka diteguhkan. Anak-anak mendapatkan banyak ejekan dan masukan negatif dari kelompok bermainnya dan dunia sekitarnya. Para ayah perlu melawan masukan negative itu dengan terus meneguhkan anak-anak mereka dengan kata-kata yang membangun, bukan meruntuhkan dan merendahkan mereka. Sekalipun mereka gagal atau jatuh ke dalam dosa, seorang ayah, lewat kata-katanya, berkuasa untuk membangkitkan semangat anaknya kembali supaya bangkit dari kegagalan dan bertobat dari dosa-dosanya.
2.        Ayub menguduskan mereka
·         Berdoa untuk anak-anaknya, meletakkan tangannya sebagai seorang imam untuk menguduskan anak-anaknya. Dia memberkati anak-anaknya dengan doa, dan Tuhan memagari mereka sehingga Iblis tidak dapat menguasai hidup mereka.
·         Mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.  Hanya firman Tuhan yang sanggup menguduskan anak-anak kita dari dalam (Mazmur 119:9). Ayub sedang mereproduksi gaya hidupnya sebagai orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan dengan cara mendidik anak-anaknya dalam kebe-naran firman Tuhan.  Takut akan Tuhan perlu dibangun setiap hari dengan cara kita mendidik (mentraining) anak-anak kita untuk mencintai  firman Tuhan, mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Tugas ini bukan tugas gereja tapi tugas orang tua, khususnya tugas seorang ayah dalam rumah tangga (Ulangan 6:4-7; Efesus 6:4).
3.        Ayub mempersembahkan korban bakaran bagi Allah
·         Sebagai seorang ayah, bertindak sebagai imam minta pengampunan atas dosa anak-anaknya. Dia ayah yang bertanggung jawab karena kalau anak-anaknya jatuh ke dalam dosa, berarti dia juga tidak atau kurang menjalankan fungsinya sebagai seorang ayah
·         Mempersembahkan korban sebanyak jumlah anaknya. Di mana korban-korban ini baunya menyenangkan hati Allah. Korban-korban ini mewakili hidup anak-anaknya. Di Roma 12:1, hidup kita yang menjadi persembahan yang hidup bagi Allah. Seorang ayah harus menyerahkan anak-anaknya sebagai persembahan yang hidup, yang menyenangkan hati Allah, bukan menyenangkan hatinya. Serahkan anak-anak anda pada mezbah Allah setiap saat. Jadikan mereka persembahan yang hidup yang menyenangkan hati Allah.
Penutup

Mengapa seorang ayah perlu mengambil peran ini dalam keluarganya? Supaya kutuk tidak masuk (Maleakhi 4:6). Ketika hati bapak-bapak kembali kepada anak-anaknya dan hati anak-anaknya kembali kepada bapak-bapak (ada kesehatian, ada perdamaian, ada keharmonisan antara ayah dengan anak) maka itu akan menghalangi kutuk masuk (dalam bahasa Inggris ‘or else I will come and strike the land with a curse’). Sebenarnya bukan Allah yang mendatangkan kutuk tetapi kita lah yang mereproduksi kejahatan itu dalam hidup anak-anak kita dan merekapun juga akan terus mereproduksinya sehingga bumi tidak lagi dipenuhi oleh kemuliaan Allah tetapi oleh kejahatan yang mendatangkan murka Allah sehingga hidup ki

Comments