Bangun lari..... Kisah RUT






Melarikan diri dari masalah seolah obat mujarab yang melenyapkan masalah. Padahal, itu hanya penundaan sementara waktu saja. Bahkan persoalan yang tidak segera diselesaikan akan menambah tumpukan beban hidup kita.

RUT 1 : 1 – 2
1:1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
1:2 Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.

Peristiwa dalam Kitab Rut ini terjadi pada zaman hakim-hakim, zaman di mana tidak ada raja di antara orang Israel. Yang dimaksudkan di sini adalah tidak ada raja Sorga, sehingga semua orang bertindak sesuka hati mereka masing-masing. Akibatnya, murka ALLAH turun atas mereka, sehingga menyebabkan mereka menerima hukuman berupa kelaparan menghajar perut mereka.

Di dalam kehidupan sehari-hari, masa sekarang ini boleh dikata orang bertindak seperti pada zaman hakim-hakim. Orang main hakim sendiri, di mana-mana terdengar berita pembunuhan, pemerkosaan, dan kekerasan. Bagaimana orang beriman menghadapi kekacauan dan masa sulit yang diakibatkan oleh tindakan semena-mena yang terjadi dalam masyarakat ?

Kita sebagai orang beriman jangan melarikan diri seperti Elimelekh yang memboyong keluarganya ke tanah Moab. Sebab melarikan diri bukan solusi. Tindakan ini menandakan kita tidak percaya kepada penyertaan TUHAN, sehingga TUHAN tidak berkenan atas tindakan pengecut seperti ini. Setiap orang memang menghadapi persoalan dalam hidup, sebab hidup ini penuh dinamika dan gejolak. Hadapilah kesulitan, sebab lari justru membuat kita makin terpuruk.

KEJADIAN 12 : 10
Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.

Tindakan Abram (Abraham) sama dengan tindakan Elimelekh yang lari ke Mesir karena ogah menghadapi kelaparan. Di dalam Alkitab bahasa Inggris dikatakan, “turunlah Abram ke Mesir”. Kata “turun” ini bermakna Abram dari tempat tinggi meluncur ke titik nol. Padahal, Abram yang berasal dari keluarga penyembah berhala berangkat dari titik nol ketika dipanggil TUHAN keluar dari Ur-Kasdim. Dipanggil TUHAN berarti “naik”. Kala ujian datang dan kesulitan menghadang, jangan turun kembali.

Kesulitan jangan dijadikan alasan oleh orang Kristen yang telah menerima panggilan TUHAN untuk menerima hidup kekal. Kita tidak boleh turun ke Mesir yang menggambarkan keduniawian. Mesir tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Iman Abram yang tenggelam membuatnya mau tidak mau mengadakan transaksi dagang dengan Firaun: istrinya, Sara, ditukar dengan harta. Hampir saja Abram kehilangan istrinya yang cantik jika TUHAN tidak campur tangan.

Bilamana menghadapi peperangan, apa yang harus kita lakukan? 2 Tawarikh pasal 20 memberi pelajaran yang berharga bagi kita. Suatu hari Yosafat menghadapi peperangan yang tidak seimbang sehingga dia merasa takut. Ketidakmampuannya menghadapi musuh membuat Yosafat mengajak seluruh rakyat Yehuda untuk berpuasa. 2 Tawarikh 20 : 3 — “ Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.”

Hal ini mengajarkan kepada kita bila menghadapi persoalan baik ekonomi, kesehatan dan hal lainnya, mintalah seluruh keluarga bersatu dalam doa dan puasa. Jawaban TUHAN kepada Yosafat melalui Yahaziel adalah, “Jangan takut !!!”

Instruksi selanjutnya dari TUHAN adalah agar mereka maju menghadapi musuh, yang disampaikan oleh Yahaziel. TUHAN tidak mengatakan, “Kalau kamu takut, AKU akan memimpin kamu melarikan diri.” Tidak !!! Di dalam kamus TUHAN tidak ada kata melarikan diri. TUHAN YESUS sendiri memberi teladan dengan pantang mundur menghadapi kayu salib. Di situlah DIA menerima kemenangan dan kemuliaan.

Yang aneh, mereka disuruh menghadapi musuh, tetapi tidak usah bertempur, sebab TUHAN yang akan berperang.

2 Tawarikh 20 : 17 — “ Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

Kalau kita lari dari musuh, TUHAN tidak akan berperang bagi kita. TUHAN hanya mau berperang bagi orang yang beriman kepada DIA. TUHAN mau kita berani menghadapi musuh, karena kita percaya kepada TUHAN yang menyertai kita.

Selain Yahaziel yang dihinggapi ROH ALLAH – gambaran HAMBA TUHAN yang menyampaikan Firman - untuk membangkitkan iman jemaat, ada bani Lewi yang bertugas memuji TUHAN. Pujian ini menunjukkan, bahwa kita memuliakan TUHAN, percaya bahwa TUHAN pasti memberi penyelesaian. Firman plus pujian sama dengan solusi. TUHAN membuat musuh saling membunuh, sehingga tentara Yosafat tak perlu mengayunkan pedang mereka. 2 Tawarikh 20 : 23 — “ Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh.”

Seandainya Yosafat lari dari musuh, justru dia akan mati. Sebaliknya dengan berani menghadapi musuh dan mempersilahkan TUHAN berperang untuk kita, persoalan akan dibereskan TUHAN. Musuh yang paling berat adalah diri sendiri, yaitu tidak berani menghadapi persoalan, mau lari dari kenyataan, rasa putus asa. Taklukkanlah musuh dari dalam ini. Jika kita bisa menaklukkannya, TUHAN yang akan menyelesaikan musuh dari luar.

Misalnya kita menghadapi masalah terjerat hutang dan belum mampu membayar saat jatuh tempo. Kuatkan diri untuk tidak lari dari masalah. Hadapi dan katakan terus terang beserta permohonan maaf kepada pihak kreditur, bahwa saat itu belum mampu mengembalikan pinjaman. Jangan bersembunyi, berbohong atau mencari-cari alasan lain. Hal itu malah membuat keadaan lebih runyam. Seandainya kita tidak lari dan mampu menaklukkan musuh dari dalam ini, maka TUHAN yang akan berperang bagi kita, entah dengan melunakkan hati kreditur agar mau memberi tambahan waktu atau jalan keluar lainnya.

1 SAMUEL 17 : 11
Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

Saul sangat takut menghadapi Goliat yang berpostur raksasa itu. Bak virus, ketakutan itu menular kepada rakyat Israel. Kadang-kadang kita tidak mencari jalan keluar dari masalah, tetapi malah membesar-besarkan rasa takut. Orang yang mau menangkap ikan besar, harus berani menghadapi ombak besar. Tidak bisa kita minta hanya menghadapi problem kelas teri, sedangkan meminta berkat sekelas kakap.

Takut bukan solusi. Demikian pula mengeluh, “Mengapa saya harus menghadapi masalah ini ?” Itu sama saja dengan protes kepada TUHAN.

Ternyata ketakutan Saul disebabkan ROH TUHAN sudah mundur dari Saul. 1 Samuel 16 : 14 — “ Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN.” Berarti orang yang dipenuhi ROH KUDUS tidak akan takut menghadapi masalah. Perlu diingat, berani di sini bukan berarti melakukan tindakan nekad dan tidak masuk akal.

MAZMUR 78 : 9 - 11
78:9 Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran;
78:10 mereka tidak berpegang pada perjanjian Allah dan enggan hidup menurut Taurat-Nya.
78:11 Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, yang telah diperlihatkan-Nya kepada mereka.

Kendati Efraim memiliki pasukan pemanah yang tangguh dan senjata lengkap, mereka lari dari musuh. Hal ini terjadi karena mereka tidak mau menurut Firman TUHAN. Karena itu, bila kita dilanda masalah, tanyalah kepada diri sendiri, apakah kita sudah tidak lagi menuruti Firman-NYA, ROH KUDUS sudah undur dari diri kita ? Lekaslah mendekat kembali kepada-NYA, mengakui segala kesalahan kita, maka kita akan dipulihkan dan melihat perbuatan ALLAH yang ajaib selalu mewarnai hari-hari indah kita.

Masalah tak mungkin bisa kita hindari, tetapi orang yang bersandar kepada TUHAN tidak akan kekurangan sesuatu pun yang baik seperti yang diutarakan oleh Pemazmur di dalam Mazmur 34 : 11 — “ Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.”

TUHAN YESUS menggambarkan Diri-NYA dengan metafora Pokok Anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Bersatu dengan Pokok/Pohon Anggur kita pasti akan berbuah. Ranting akan dapat berbuah jika menempel pada pokok anggur. Andalkanlah TUHAN, Pokok Anggur yang memberi kelangsungan hidup bagi kita, yang membuat kita tidak akan mengalami kekalahan dalam hidup ini.

RUT 1 : 3 - 5
1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.
1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.
1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

Elimelekh dan keluarganya sudah menetap di Betlehem lalu lari ke Moab, bermakna orang yang sudah mulai dengan ROH namun menyudahi dengan daging. Hasilnya ? Elimelekh mati. Demikian juga dengan kedua anak laki-lakinya. Lari justru menuju kematian. Terlebih lagi jika lari dari TUHAN menuju pada hal-hal duniawi yang tidak mungkin menolong kita.

Bandingkan dengan Elia yang tidak lari saat ada kelaparan. Dia menuruti perintah TUHAN yang memerintahkannya tinggal di tepi sungai Kerit. Imannya sungguh kuat; dia percaya bahwa gagak tidak akan meleset membawa makanan untuk dia seperti yang diperintahkan TUHAN. Langkah selanjutnya Elia disuruh ke Sarfat, dan di sana dipelihara oleh seorang janda miskin yang ditugaskan TUHAN memberi makan Elia sampai hujan turun dan kelaparan berlalu. Beranikah kita beriman seperti Elia ?

Roma 1 : 16 - 17
1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Mengajar kita untuk berpegang kepada Injil yang merupakan kekuatan ALLAH.

Injil mengatakan, agar kita jangan kuatir apa yang kita makan dan minum.

Carilah dahulu kerajaan ALLAH, maka semuanya akan dicukupi.

Injil juga mengatakan, bahwa TUHAN YESUS yang sudah mati dan bangkit bagi kita, maka YESUS KRISTUS juga pasti sanggup memelihara hidup kita.

Sebagai orang beriman yang berpegang pada janji-janji TUHAN yang tertuang di dalam Injil, kita tidak perlu lari dalam menghadapi masalah.

Hadapi semuanya dengan iman, bahwa YESUS KRISTUS pasti akan berperang bagi kita jika kita dengan kepala tegak berani menatap musuh kita, Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS Memberkati.

Comments