Pikul salib.... Siapa Takut....????




Salib adalah hal yang menarik sejak Tuhan Yesus memerintahkan para muridnya untuk memikul salib. sebelumnya kita perlu memberi batasan tentang salib menurut 5 Ayat Alkitab yang disebut oleh Tuhan Yesus, yaitu : Matius 10:38 dan Lukas 14:27, Matius 16:24, Markus 8:34, Lukas 9:23. Salib adalah penderitaan atau hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup karena mempercayai Yesus dari Nazaret sebagai Tuhan dan turut serta berupaya dalam penyelamatan umat manusia.

Tentang 5 Ayat tersebut diatas, hanya Lukas 9:23 yang tidak menyebut memikul salib setiap hari. Ayat inilah yang akan kita bahas.

Apa maknanya? Yesus berkata, "Kamu harus memikul salib-mu setiap hari, kalau kamu ingin menjadi murid-ku." Yesus meneruskan dengan berkata bahwa itu berarti Anda harus kehilangan nyawa Anda karena di dalam proses kehilangan nyawa itulah, Anda akan memerolehnya. Jika Anda mencoba untuk mempertahankannya, itu justru berarti Anda malah akan kehilangannya.

Kita akan menggunakan satu pertanyaan untuk memahami seluruh pokok persoalan ini. Kita tahu Kristus telah mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita dan telah menggenapi karya penebusan-nya bagi kita semua. Pertanyaan yang timbul adalah jika Yesus telah mati dan penebusan-nya itu sempurna, mengapa saya perlu memikul salib? Mengapa Anda perlu memikul salib? Dia sudah memikulnya, jadi apa perlunya saya dan dia memikul salib? Untuk apa memikul salib bersama-sama? Bukankah sudah cukup dengan berkata, "Terimakasih, Yesus Kristus. Yah, engkau memang sungguh baik. Aku terharu atas kasih-mu kepadaku. Engkau telah memikul salib-mu. Aku cukup berterimakasih saja. Yesus telah mati bagi dosa-dosa kita. Haleluyah!"

Jadi persoalannya adalah jika Yesus telah memikul salib, untuk apalagi saya memikul salib? Apakah Yesus saat itu lupa bahwa dia-lah yang harus memikul salib? Atau, mungkin dia butuh bantuan dalam urusan memikul salib ini? Mengapa Yesus menyuruh kita untuk mengikuti teladan-nya? Dia memikul salib di depan, dan dia menyuruh kita untuk memikul salib juga sambil mengikuti-nya dari belakang. Bukankah kita akan bertanya, "Apakah salib-mu saja tidak cukup?" Tetapi kita tahu bahwa keselamatan, salib dan penebusan-nya sudah genap. Tidak ada yang kurang di dalam penebusan-nya; Alkitab memberitahu kita bahwa keselamatan-nya sudah genap (misalnya Ibr 1:3,4, 9:12-14).

Jadi, apa perlunya kita memikul salib? Mengapa ada persyaratan seperti ini? Mengapa Yesus tidak berkata, "Baiklah, Aku telah memikul salib; Aku telah melakukan semuanya. Jadi mulai sekarang, kalian hanya perlu bersukaria. Aku telah mengambil alih semua penderitaan; tak ada lagi hal yang tersisa untuk kalian kerjakan. Kalian cukup pergi ke gereja saja, bertepuk tangan, menyanyi haleluyah, menari... ..." Lalu kita semua menari-nari; kita bersenang-senang, karena Yesus telah memikul salib, dan itulah karya keselamatan. Inilah Injil yang kita dengar. Bukankah hal ini yang dikatakan para pengkhotbah dan para penginjil kepada kita?

Terdapat dua salib. Satu adalah salib Kristus, dan yang satu lagi adalah salib saya. Atau yang lebih tepat, terdapat banyak salib, satu adalah salib Kristus, dan terdapat juga salib-salib yang lain, yang harus dipikul oleh setiap dari kita. Dan kita bukan saja harus memikulnya tetapi harus memikulnya setiap hari, itulah yang tertulis di ayat-ayat ini. Setiap hari Anda bangun tidur, dan Anda harus memanggul benda berat ini di pundak Anda, dan Anda melangkah menuju Kalvari. Menuju Kalvari? Tetapi Yesus sudah sampai di sana. Dia sudah mengerjakan semuanya. Untuk apalagi Anda harus ke Kalvari? Yah, saat Anda mengikut Yesus, tentunya Anda akan pergi ke tempat di mana dia pergi. Jika dia menuju Kalvari, ke mana lagi Anda mau pergi kalau bukan ke Kalvari juga? Jika Yesus pergi ke Kalvari, apakah kita boleh pergi bertamasya ke tempat lain? Lalu bagaimana cara kita memahami hal ini?

Makna dari "salib kita"

Apa makna penting dari salib kita? Apakah karena Yesus Kristus memandang bahwa akan lebih baik jika kita menanggung sedikit penderitaan? Atau mungkin dia khawatir kalau-kalau kita memang akan menjalani hidup kita dengan bertamasya terus menerus, jadi Yesus berkata, "Tidak, tidak, tidak. Aku akan membuatnya jadi sedikit lebih berat buat kalian. Jika kalian mengira akan menikmati hidup yang menyenangkan, Aku akan membebankan salib buat kalian. Ah, itu akan membuat kalian tetap merendah, mencegah kegemukan, mempertahankan bentuk tubuh kalian. Jika tidak, kalian mungkin akan menjadi gendut dan lemah. Setiap hari kalian harus menjalani latihan rohani ini, yaitu pikul salib ini setiap saat." Itukah alasan Yesus menyuruh kita memikul salib? Karena kita butuh olahraga rohani? Mungkinkah urusan memikul salib ini adalah sebagai suatu latihan rohani? Untuk apa kita memerlukan salib?

Gereja tidak memiliki kuasa karena tidak memahami apa maknanya salib kita. Kita berpikir seperti ini: Kristus telah mati bagi saya, jadi tidak ada lagi hal yang perlu saya lakukan selain dari menyanyi haleluyah. Dan kalau itu masih belum cukup, saya bisa coba mendapatkan pengalaman rohani apakah karunia berbahasa roh atau karunia-karunia yang lainnya. Saya menyinggung hal ini karena terdapat banyak orang Kristen yang menginginkan karunia rohani atas alasan yang sangat egois. Mereka menghendaki suatu pengalaman dan tujuan di baliknya hanyalah supaya mereka dapat bermegah dan berkata, "Aku adalah orang Kristen superior. Sudahkah kamu berbahasa roh? Belum, eh? Ah ha, aku sudah. Kalian tahu, kalian orang-orang yang malang yang hanya masuk jajaran orang Kristen kelas rendahan. Aku termasuk yang kelas tinggi. Aku berbahasa roh. Oh, kamu hanya pernah sekali berbahasa lidah? Ah, kamu sungguh tidak beruntung. Aku berbahasa roh setiap hari."

Masalahnya adalah, apakah yang mau Anda buktikan? Apakah Anda sedang berusaha membuktikan bahwa Anda adalah orang Kristen kelas atas? Apa motivasi Anda? Terdapat juga orang yang mengejar karunia supaya mereka bisa berkata, "Ah, perasaannya sangat menyenangkan sekali." Nah, jangan salah paham, saya tidak menentang bahasa lidah jika dipergunakan secara benar, yaitu, digunakan untuk memperdalam persekutuan kita dengan Tuhan. Memang hanya itulah manfaatnya jika digunakan dengan benar.

Tetapi kalau kita mengejar bahasa roh sekadar untuk kepuasan egois, hal ini sangat memuakkan. Itu bukanlah tujuan dari bahasa lidah. Jika masih ada orang yang mengejar karunia bahasa roh untuk tujuan itu maka ia sudah berada di jalan yang salah. Salib diadakan untuk menghancurkan keakuan yang seperti ini. Dan jika ada orang Kristen yang telah bertahun-tahun menjadi Kristen dan masih saja memperlihatkan keegoisan semacam ini berarti dia tidak tahu apa itu kekristenan yang sejati.

Jadi, kita kembali pada pertanyaan yang sama: Mengapa Yesus Kristus menyuruh kita memikul salib? Untuk dapat memahami pertanyaan ini, kita harus memahami makna salib. Salib berkaitan dengan pengorbanan. Kata pengorbanan ini merupakan kata yang jarang dipahami oleh orang Kristen. Ibrani 9:14,26:

Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup

Selanjutnya Ibr 9:26:

Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya

Ayat yang pertama berbicara tentang darah, sedangkan yang kedua berbicara tentang pengorbanan-nya di kayu salib. Salib berarti pengorbanan. Di 1 Kor 15:31, Paulus menerapkan pemahaman pengorbanan ini pada dirinya. Ayat di 1 Kor 15:31 berbunyi seperti ini:

Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut [I die every day].

Pikullah salibmu setiap hari! Paulus dapat berkata, "Aku mati setiap hari (I die every day)." Dengan kalimat itu Paulus sedang menyatakan, "Aku mempertaruhkan nyawaku setiap hari. Aku mati secara rohani. Setiap hari aku berhadapan dengan maut." Paulus melanjutkan dengan berkata bahwa dia berjuang melawan binatang buas di Efesus dan sebagainya. Nyawanya selalu di bawah ancaman, dia selalu berada dalam keadaan bahaya karena dia masuk dalam pelayanan yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Jadi, salib Yesus Kristus adalah salib pengorbanan. Salib apakah yang kita pikul? Salib pengorbanan juga. Roma 8:36 berbunyi serupa. Di Rom 8:36 rasul Paulus berkata:

Seperti ada tertulis (dia mengutip dari Mzm 44:22): "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan."

Domba-domba sembelihan adalah domba-domba yang dipersiapkan untuk dikorbankan di Bait Allah untuk penebusan dosa. Dia menyatakan hal yang kurang lebih sama di 2 Kor 4:11,12:

Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini

Perhatikan isi ayat 12:

Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu

Perhatikan dengan baik kalimat-kalimat tersebut. Melalui kematian kami, kehidupan datang kepada Anda. Kami mati supaya Anda dapat hidup. Hal ini mirip dengan apa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus. Maut giat di dalam dia supaya hidup giat di dalam kita. Namun, Paulus tidak mengatakan hal tersebut dengan mengaitkannya dengan Yesus Kristus melainkan terhadap dirinya dan rekan-rekan sekerjanya - yakni para rasul. Jadi "maut giat di dalam diri kami", bukan sekadar saya, tetapi "di dalam diri kami, dan hidup giat di dalam kamu." Berarti setiap saat kita berhadapan dengan maut.

Dapatkah Anda memahami bahasa semacam itu? Atau apakah kalimat ini terdengar asing bagi Anda? Karena jika Anda tidak memahami apa arti menjadi persembahan yang hidup yang Paulus perintahkan kepada setiap orang Kristen (Rom 12:1-2), maka Anda tidak akan dapat memahami kalimat tersebut. Renungkanlah, apa arti kurban itu? Kurban tidak sekadar berarti menyerahkan sesuatu, atau menyerahkan makanan, atau mempersembahkan makanan.

Pengorbanan adalah perkara menyerahkan nyawa untuk orang lain. Apa yang Anda serahkan untuk diri Anda sendiri menurut Alkitab bukanlah pengorbanan. Menurut Alkitab, pengorbanan selalu ditujukan untuk orang lain. Lihat contoh domba-domba sembelihan, seperti yang dikutip oleh Paulus di sini, "Kami telah dianggap sebagai domba." Apakah Paulus mati bagi dirinya sendiri? Tidak. Paulus hanya berkata, "Maut giat di dalam diri kami supaya hidup giat di dalam kamu. Kami mati untuk kamu." Itulah artinya. Pikirkanlah tentang domba-domba yang dibawa ke Bait Allah untuk dikorbankan. Apakah menurut Anda para domba itu disembelih bagi diri mereka sendiri, atau bagi dosa mereka sendiri, atau demi kebutuhan mereka sendiri? Tentu saja tidak! Setiap domba yang disembelih di Bait Allah menyerahkan nyawanya bagi orang lain. Itulah poin yang harus Anda pahami. Suatu penyerahan tidak dapat disebut pengorbanan jika tidak ditujukan untuk orang lain, apakah hal itu dipersembahkan dalam keadaan hidup atau mati. Memang ada kurban yang hidup, karena Anda tentu tahu tentang kambing kurban untuk Azazel (scapegoat) yang dilepaskan ke padang gurun. Ia akan dilepas ke padang gurun, mungkin dia akan mati di sana; yang jelas ia tidak disembelih. Entah hidup atau mati, kata Paulus, kita selalu jalani hidup ini sebagai korban persembahan. Kita tidak sekadar mati sebagai kurban persembahan, tetapi kita juga menjalani hidup sebagai kurban persembahan.

Jadi Kristus juga tidak mati untuk diri-nya sendiri. Ketika Yesus berkata bahwa dia memikul salib-nya, dia tidak memikul salib itu bagi diri-nya sendiri. Dia memikul salib itu bagi kita. Lantas ketika kita memikul salib kita, apakah sebenarnya yang sedang kita lakukan? Kita seringkali dengan bodohnya membayangkan bahwa salib itu kita pikul bagi diri kita sendiri. Jika kita memikul salib itu bagi diri kita sendiri, maka itu berarti salib Kristus tidak cukup bagi kita dan kematian-nya tidak cukup bagi kita; kita harus mati bagi diri kita sendiri juga? Tidak, tidak, tidak! Kita telah gagal memahami aspek fundamental dari ajaran Yesus.

Ketika Yesus menyuruh kita untuk memikul salib kita setiap hari, hal itu bukanlah bagi kepentingan kita sendiri. Dia memanggil kita untuk bergabung dengan-nya di dalam pelayanan keselamatan. Apa artinya itu? Artinya adalah: Yesus mati bagi kita, supaya setelah menerima hidup itu kita bisa menyalurkannya kepada orang lain, entah lewat kehidupan atau lewat kematian. Apakah Anda mengerti hal yang dimaksudkan oleh Yesus? Jika Anda ingin menjadi murid-nya, hal tersebut harus menjadi watak Anda. Jika tidak, Anda tidak akan pernah menjadi murid-nya.

Itulah yang saya maksudkan sebagai hikmat Allah di dalam poin yang kedua. Bahwa di dalam hasrat untuk memperoleh keselamatan - melalui hasrat yang egois itu - keakuan kita dihancurkan. Bagaimana caranya? Dengan mempersyaratkan bahwa jika Anda ingin diselamatkan, maka Anda harus menyalurkan keselamatan itu kepada orang lain. Jika Anda tidak menyalurkannya kepada orang lain, maka Anda sendiri tidak akan diselamatkan juga. Tak ada orang Kristen yang duduk santai di gereja atau di rumahnya, atau di manapun ia berada, yang akan diselamatkan. Dia tidak akan selamat jika dia berpikir bahwa dia diselamatkan hanya dengan menyelamatkan dirinya sendiri.

Itu sebabnya kita dipanggil untuk menjadi terang dunia. Menyalurkan terang dan hidup Allah kepada orang lain. Terang adalah gambaran dari kehidupan di dalam Alkitab. Saya harap Anda bisa memahami poin ini dengan sangat jelas. Jika Anda kira bahwa Anda akan diselamatkan dan pergi ke surga hanya dengan percaya kepada Yesus, berarti Anda masih belum mengerti ajaran Yesus. Memang benar, keselamatan itu melalui iman. Memang benar bahwa Anda menerima keselamatan itu. Memang benar bahwa keselamatan sudah genap bagi Anda dan saya; keselamatan itu bukanlah hasil perjuangan kita. Akan tetapi kita harus menjadi saluran keselamatan itu. Dan jika kita tidak menjadi saluran keselamatan itu, maka kita tidak akan memilikinya.

Di dalam proses menjadi saluran keselamatan itu, kita memberikan diri kita kepada orang lain, sama seperti Yesus telah memberikan diri-nya kepada kita. Keselamatan bukanlah barang yang bisa Anda beli di toko dan dibagikan kepada orang lain. Keselamatan adalah sesuatu yang Anda salurkan melalui hidup Anda kepada orang lain. Jika Anda pikir bahwa keselamatan itu hanya sekadar perkara membuat traktat dan pergi ke jalan-jalan dan berkata, "Hei, sudahkah kamu percaya pada Yesus? Ini ada 4 kaidah rohani. Duduklah supaya aku bisa jelaskan kepadamu. Dengarkan baik-baik karena hidupmu bergantung padanya." Selanjutnya Anda menguliahi dia, Anda menjejalkan Injil kepadanya. Dan dia menolaknya dan Anda berkata, "Pergilah, kamu tidak layak untuk diselamatkan. Kamu tidak ditakdirkan untuk diselamatkan." Atau mungkin Anda berkata, "Aku bersedih akan keadaanmu. Mungkin pada suatu hari nanti kamu akan tersadar." Sikap manapun yang kita tunjukkan, itu tetap memperlihatkan bahwa kita belum mengerti bahwa keselamatan itu bukan sekadar perkara membagikan traktat. Keselamatan berarti memberikan diri Anda. Jika Anda tidak memberikan diri Anda, berarti Anda belum memberi apapun yang layak diberikan. Anda harus mencurahkan diri Anda bagi orang lain.

Yesus tidak memberi kita Perjanjian Lama dan berkata, "Bacalah itu. Maka kamu akan selamat." Kalau begitu, maka dia tidak perlu naik ke kayu salib. Dia menyerahkan nyawa-nya bagi keselamatan kita. Di sini Yesus Kristus berkata, kamu juga harus melakukan hal yang sama. Anda harus memikul salib dan memberikan dirimu - di kayu salib - bagi orang lain. Hanya dengan kehilangan nyawa Anda, bukan dengan kehilangan traktat Anda. Bukan dengan kehilangan sejumlah uang, tetapi kehilangan nyawa Anda.

Terdapat perbedaan arah pemikiran. Kadang-kadang kita bersedia untuk memberikan traktat, kita bahkan rela mencetaknya dengan uang kita sendiri. Itu mungkin akan membuat kita kehilangan beberapa dolar, mungkin beberapa ratus dolar, tidak masalah. Namun tidak demikian halnya dengan menyerahkan diri Anda, mengorbankan waktu Anda, mengorbankan seluruh keberadaan Anda, memberi perhatian, memberi kasih Anda. Kita bisa saja membagikan traktat tanpa memberikan kasih yang nyata. Kita bisa saja memperlakukan mereka sebagai obyek yang perlu diselamatkan, untuk kita daftarkan ke dalam catatan prestasi kita, "Aku telah menyelamatkan 15 orang tahun ini. Anda tahu, aku telah mendapatkan 15 domba." Tidak ada kasih di dalam urusan tersebut. Kasih berarti memberikan diri Anda sepenuhnya kepada orang lain.

Salib dalam Pemuridan - Menjadikan kita Para penyelamat

Camlah hal ini dengan baik. Dapat dikatakan: Kita diselamatkan untuk menjadi para penyelamat. "Oh," kata Anda, "Aku, seorang penyelamat?? Hei bukankah ini penyelewengan makna kata?? Bukankah kata "penyelamat" itu hanya untuk Yesus saja? Bukan aku." Di dalam Alkitab, kata "saviour (penolong, penyelamat, juruselamat)" diterapkan pada orang-orang biasa seperti Anda dan saya. Satu contohnya adalah di 2 Raja-raja 13:5. Allah ingin memanggil umat-Nya untuk menjadi para penyelamat. Ini adalah salah satu dari sekian banyak contoh:

TUHAN memberikan kepada orang Israel seorang penolong (saviour), sehingga mereka lepas dari tangan Aram dan dapat duduk di kemah-kemah mereka seperti yang sudah-sudah

Penggunaan kata "saviour (penolong)" di sini dipakai untuk seorang pemimpin Israel yang membebaskan mereka dari tangan Aram. Di dalam terjemahan bahasa Inggris kata "saviour" atau "penyelamat" digunakan di dalam ayat ini. Allah memberikan mereka seorang saviour (penyelamat)! Hal yang sama dapat dilihat di dalam ayat 2 Raja-raja 14:27, dan juga di dalam berbagai ayat yang lain di dalam Alkitab.

Tuhan mencari orang-orang yang bisa Dia jadikan penyelamat bagi orang lain. Dalam hal ini, 2 Raja-raja 14:27:

Tetapi TUHAN tidak mengatakan bahwa Ia akan menghapuskan nama Israel dari kolong langit; jadi Ia menolong(menyelamatkan) mereka dengan perantaraan Yerobeam bin Yoas

Dia menyelamatkan mereka, benar, tetapi melalui Yerobeam! Yerobeam bukanlah orang dengan kepribadian yang mulia. Dia mengawali dengan baik namun mengakhiri dengan buruk, mirip kebanyakan orang Kristen. Namun Allah pada waktu itu memakainya untuk menyelamatkan Israel.

Mereka disuruh untuk menjadi para penyelamat. Allah memanggil kita untuk menunaikan panggilan surgawi yang sama. Paulus menyebut hal ini sebagai panggilan surgawi. Mengapa disebut panggilan surgawi? Artinya bukanlah sekadar memanggil kita ke surga. Panggilan ini disebut sebagai panggilan surgawi karena Dia memanggil kita untuk terlibat di dalam pelayanan yang sama dengan Yesus, yaitu penyelamatan umat manusia. Kita dipanggil untuk memikul salib untuk menjadi juruselamat sama seperti Dia. Hanya dengan cara itulah kita bisa menjadi murid Kristus.


Sumber : Khotbah Pastor Eric Chang on Youtube

Comments