Teori Teori Administrasi Publik Klasik dan Modern




A. Teori Modern Administrasi

1. Birokrasi Max Webber

a. Konsep Birokrasi

Fenomena birokrasi telah mendominasi pembicaraan mengenai organisasi, administrasi (termasuk administrasi public)dan manajemen selama lebih sari satu abad. Ketika Webber pertama kali dengan tipe ideal birokrasinya sama sekali tidak yang paling tepat untuk semua kegiatan bersama manusia. Namun, kita menyaksikan bahwa birokrasi telah menjadi paradigma yang dominan dalam studi tentang organisasi, administrasi dan manajemen.

Birokasi sering didefinisikan sebagai unit administrasi atau kantor niaga. Ralph P Hummel (1982:2), birokrasi dipergunakan untuk semua organisasi modern, baik public atau privat termasuk di dalamnya bisnis dan perusahaan industrial yang kedudukannya bersama-sama dengan lembaga pemerintah menjalankan pelayanan public sesuai dengan prinsip-prinsip rasional dan modernisasi.

Yahya Muhaimin, birokrasi sebagai keseluruhan aparat pemerintah sipil dan militer yang melakuka tugas membantu pemerintah dan menerima gaji dari pemerintah karena statusnya itu.

Agus Dwiyanto (1998:10), birokrasi merupakan alat penunjang utama di dalam administrasi modern.

Ripley dan Franklin (1982:30), birokrasi bukan bentuk organisasi yang hanya dimiliki oleh pemerintah. Perusahaan, Universitas, lembaga-lembaga keagamaan atau organisasi lainnya semuanya dapat menciptakan dan menggunakan birokrasi untuk menjalankan misinya.

Birokrasi juga sering disbut sebagai kekuasaan (kratos) pada meja (biro, bureau). Birokrasi berarti pertunjukkan kekuasaan (kewenangan)yang berlangsung melalui prosedur yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Caiden (1987), birokrasi peerintah sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari (unavoidable).


Tulisan tentang birokrasi Weber ini baru munsul di tahun 1921 ketika tetbit buku Witchchraft und Gesselchaft. Menurut Martin Albrow, Webber tidak pernah menggunakan istilah “birokrasi” dalam tulisannya itu. Istilah itu digunakan oleh Vincent de Gournay ketika menguraikan system pemerintahan Prusia di tahun 1745 (Miftah Thoha, 1991). Menurut Gourney dalam Setiyono (2004:10) birokrasi berasal dari kata bureau, yang berarti meja tulis dimana para pejabat saat itu bekerja dibelakangnya.

Webber membedakan 3 macam otoritas sebagai berikut :

#1. Otoritas Tradisional, bertumpu pada kepercayaan dan rasa hormat pada tradisi dan orang-orang yang mengemban pelaksanan tradisi.
#2. Otoritas Kharismatik, bertumpu pada keyakinan terhadap pengabdian, kepahlawanan, jasa dan kemampuan luar biasa dari seseorang.
#Otoritas Legal Rasional, berdasarkan pada keyakinan akan adat hukum yang diciptakan secara rasional dan juga pada kewenangan seseorang yang melaksanakan tata hukum itu sesuai prosedur yang ditetapkan.


2. Tipe Ideal Birokrasi Weber

Secara ringkas karateristik utama birokrasi ideal dari Weber ini adalah sebagai berikut:

#1. Aturan-aturan dan procedural formal
#2. Spesialisasi Pekerjaan
#3. Kejelasan hierarki
#4. Pengembangan karir berdasarkam merit system
#5. Impersonality
#6. Adanya objektifitas dalam melaksanakan tugas yang berkaitan dengan suatu jabatan dalam organisasi
Kegiatan administrative.


Blau dan Meyer mengemukakan ciri-ciri pokok struktur birokrasi yang ideal dari Weber adalah sebagaimana berikut:
Terdapat pembagian tugas berdasarkan spesialisasi tertentu

Pengorganisasian kantor mengikuti prinsip hierarki dan ada prinsip delegasi wewenang Pelaksanaan tugas diatur oleh suatu system peraturan yang abstrak dan konsisten
Seorang pejabat yang ideal melaksakan tugas-tugasnya Sifat pekerjaan berdasarkan kualifikasi tekni
Ada jenjang karier
Bertujuan memaksimalkan efisiensi dalam organisasi



Menurut Mintzberg dalam Purwanto (2001:23) beberapa hal lain yang berkaitan dengan tipe ideal adalah :

Adanya standardisasi proses kerjaUkuran-ukuran desain utamanya adalah formalisasi perilaku, spesialisasi kerja vertikal dan horizontalBirokrasi ideal cocok dalam situasi lingkungan yang tenang dan stabil, struktur dan kebutuhan masyarakat masih sederhana.



2. Konsep Manajemen Dalam Administrasi Publik

a. Scientific Management dari Taylor

Pada tahun 1911 ia meluncurkan sebuah buku yang berjudul Principles of Scientific Management. Karya Taylor ini merupakan awal munculnya teori dalam bidang organisasi dan manajemen. Taylor mengharapkan bahwa pekerja dan organisasi akan sama-sama memproleh keuntungan. (Purwanto, 2001:25). F.W Taylor dalam memperbaiki manajemen organisasi adalah sebagai berikut :

Menggantikan cara yang asal-asalan dengan ilmu pengetahuan yang tersusun
Mengusahakan kerukunan dalam gerakan kelompok dan bukannya ketidakrukunan
Mencapai kerjasama manusia dan bukannya individualism yang kacau
Bekerja untuk output yang maksimumbdan bukannya output yang terbatas
Mengembangkan semua pekerja sampai taraf yang stinggi-tingginya untuk kesejahteraan maksimum mereka sendiri dan perusahaan mereka.

b. Prinsip-prinsip Umum Administrasi dari Henry Fayol

Fayol mengembangkan teori berusaha menuliskannya sebagai manajer, ia berusaha menjelaskan prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan pada semua level administrasi dan berusaha menjelakan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seorang manajer (Purwanto, 2001:26).


Fayol menemukan bahwa aktivitas sebuah perusahaan industry bias dibagi ke dalam 6 bagian sebagi berikut:

#1. Teknis (produksi)
#2. Dagang (beli, jual, pertukaran)
#3. Keuangan (pencarian, penggunaan yang terbaik, modal)
#4. Keamanan ( perlindungan bagi milik dan orang-orang)
#5. Akuntansi (termasuk statistic)
#6. Manajerial (perencanaan, organisasi , pimpinan, kerja sama dan pengawasan)



Fayol juga merupakan pendiri dari Center For Administrative Studies di Paris menjelaskan 14 Prinsip manajemen sebagai berikut :

#1. Division of Labour (pembagian kerja)
#2. Authority (kewenangan)
#3 Discipline (disiplin)
#4. Unity of Command (kesatuan komando)
#5. Unity of Management (kesatuan arah manajemen)
#6. Subordination of individual interests to the common good (menomorduakan kepentingan perorangan atau individu dari kepentingan.
umum atau kepentingan bersama)
#7. Remmuneration (penggajian atau pemberian upah)
#8. Centralization (sentralisasi)
#9. The Hierarchy (jenjang kedudukan)
#10.Order (tata tertib)
#11.Equity (keadilan/kesamaan)
#12.Stability of staff (kestabilan dari staff, stabilitas masa jabatan)
#13.Initiative (inisiatif atau prakarsa)
#14.Esprit de Corps (semangat korps)


B. Teori Neoklasik Administrasi

1. Herbert Simon Administrative Behavior

Publikasi utama dari kelompok Neo Klasik adalah tulisan Herbert Simon, Administrative Behavior yang terbit tahun 1947. Buku ini memberikan dampak yang luas di dalam pemikiran teori organisasi dan melampaui rasionalitas, batas-batas Neoklasik karena meskipun punya argumentasi tentang pentingnya instrumental rasionalitas, tetapi buku ini juga menjelaskan tentang keterbatasan dari rasionalitas si dalam setting organisasi.


Di dalam Administrative Behavior terdapat tiga tema sentral yaitu :
Keputusan adalah kegiatan sentral dari organisasi
Instrumental reason atau alasan-alasan instrumental adalah bersifat seentral di dalam perbuatan keputusan administrative dan pemahaman organisasi.
Konsep satisfying atau memuaskan yang merupakan pembatalan yang signifikan terhadap rasionalitas dan dampaknya terhadap perilaku organisasi merupakan kondisi utama di dalam pembuatan keputusan.


Simon mengajukan konsep pengambilan keputusan yang bersifat satisfying sehingga pandangan Simon ini dilihat dari 3 aspek :

1. Keputusan adalah dasar dari teori administrasi
2. Konsep Instrumental rationality
3. Konsep Satisfying


Semoga bermanfaat....

Comments