Atas Nama Tuhan...




Berikut ini saya mengutip penggalan pernyataan Bapak KAPOLRI yang dilansir oleh cnnindonesesia tanggal 04 Agustus 2017 dalam diskusi bertajuk Negara Pancasila Vs Negara Agama di Jakarta.


“Saya sudah seribu kali lebih interview orang yang ditangkap, sama saja pemikiran mereka, atas nama Tuhan membunuh yang lain.”



Diketahui, Tito sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2016, sebelum menjadi Kapolri.
Dia juga lebih banyak berurusan dengan soal teroris saat menjadi Kepala Densus 88 Antiteror Mabes Polri pada 2009-2010.

Semua orang beragama baik agama resmi yang diakui negara maupun tidak, seringkali berdiri dan mengaku Atas Nama Tuhannya. Pribadi yang Paling sering memberi pernyataan Atas Nama Tuhan adalah para pemimpin agama tersebut.

Dalam Alkitab pengakuan Atas Nama Tuhan tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Orang yang bertindak Atas Nama Tuhan adalah orang yang sudah dinyatakan atau tepatnya dipilih secara khusus oleh Tuhan sendiri.

Dalam Praktek kekinian di komunitas Kristen,; kita mengenal; ibadah syukuran; yang sering disebut Pesta Syukuran.
Orang percaya sering mengadakan pesta syukuran karena Anugerah Tuhan dalam kehidupan mereka.Biasanya disebabkan beberapa alasan , seperti di bawah ini :


#1. Pesta syukuran karena prestasi yang telah diijinkan Tuhan dicapai seperti beroleh jabatan, kenaikan pangkat,  menamatkan pendidikan, membangun rumah,  membeli benda berharga dan sebagainya.


#2. Pesta syukuran karena ulang tahun baik ulang tahun usia maupun ulang tahun pernikahan.


#3. Pesta syukuran karena telah dithabiskan menjadi bagian dari suatu komunitas Orang Percaya, seperti Baptisan,  sidi,  sambut baru dan lainnya.

#4. Pesta syukuran Tahun baru .


Menarik memang jika Ibadah syukur ini dikaitkan dengan posisi orang percaya yang melakukanya atas Nama Tuhan. Biasanya seorang pendeta akan diundang untuk memimpin ibadah syukur tersebut. Selagi Pendeta atau Majelis setempat masih berada di tempat syukur maka ibadah tersebut berada pada tujuannya, yaitu untuk memuliakan Tuhan, tetapi menjelang sang pendeta pamit, maka kondisinya mulai berbalik. Miras sebagai tanda pesta sebenarnya pun mulai diedarkan. Dalil pembenaran dari peristiwa ini adalah Miras adalah tradisi keakraban.

Pada tataran anak muda kristen pun sama. Beberapa acara seperti pesta ulang tahun (apa lagi pesta sweet seventeen), pesta valentine. Pesta tutup dan sambut tahun baru adalah acara yang paling sering diawali dengan doa, tetapi setelah itu, maka miras dan bercumbu adalah hal wajar.

Beberapa kondisi yang dikemukakan di atas menjelaskan kepada kita bahwa pesta pesta tersebut diawali dengan NAMA TUHAN dan kemudian diakhiri dengan Dosa. Secarasadar ATAS NAMA TUHAN untuk melakukan pesta yang akhirnya ada dosa. Paling tepatnya adalah minta ijin kepada Tuhan untuk berbuat dosa.

Fenomena ini apakah ada beda dengan mereka yang membunuh atas nama Agama seperti yang dikemukakan oleh Bapak KAPOLRI di atad?.Kadang tanpa sadar mereka yang berperan sebagai pemimpin rohani (mungkin saja saya salah) minta ijin bagi umatnya untuk buat dosa atau ini hanya sebuah khayalan?

Bagaimana menurut anda?



Comments