Berharga Pengakuan atau Pengakuan Berharga





Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” Yesaya 43:4


Sejak muncul smartphone, maka kita mengenal sebutan “selfie” yang diindonesiakan menjadi swafoto yang diartikan sebagai mengambil atau melakukan foto diri sendiri. Selfie pun berkembang menjadi “wefie”, yakni swafoto secara bersama. Sekarang ini kita mendengar bahkan menyaksikan banyak kasus kematian karena selfie maupun wefie akibat lokasi foto yang ekstrim.

Fenomena selfie membuat saya bertanya: apakah selfie hanyalah sebuah cara yang menyenangkan untuk mengabadikan dan membagikan cerita hidup kita kepada teman-teman kita, ataukah ada sesuatu di balik tren ini yang penting untuk kita cermati, lebih dari sekadar memuaskan mata? Mungkinkah hobi selfie menunjukkan sesuatu yang lebih dalam tentang motivasi kita, sikap-sikap kita, dan apa yang kita pikirkan tentang diri kita?


Pada bulan April 2014, seorang bernama Radhika Sanghani menulis sebuah artikel untuk surat kabar UK's Telegraph. Ia mengamati bahwa orang sepertinya menemukan semacam rasa aman dengan terus menerus berada di depan sekaligus di belakang kamera. Ketika foto-foto selfie kita terpasang di sana, dunia dapat melihat lebih banyak sisi kehidupan kita, dan kita pun bisa mengetahui pandangan orang tentang diri kita. Dalam artikelnya, Sanghani berpendapat bahwa ber-selfie-ria menunjukkan keinginan untuk "diperhatikan dan diterima dalam masyarakat".


Penerimaan ini seringkali diukur dengan jumlah "like" yang kita peroleh-sebab itu orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu mengapa foto tertentu mendapatkan "like" lebih banyak dari yang lain. Tanpa disadari kita bisa membiarkan orang lain menentukan apa yang bernilai bagi kita dan mendefinisikan identitas kita.


Ketika nilai diri kita didasarkan pada pengakuan orang lain, hati kita akan sangat sulit untuk merasa tenang. Kita terus-menerus merasa perlu memperbarui halaman profil kita. Dengan menekan sebuah tombol, kita menghapus semua yang tidak sesuai dengan citra yang ingin kita tampilkan. Kita hanya menyunting, menyimpan, dan mengirimkan foto-foto aktivitas kita yang paling keren sepanjang minggu. Kita khawatir kalau-kalau "diri kita yang sesungguhnya" tidak diwakili dengan baik oleh foto-foto kita. Tidak heran bila sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2014 di UK menemukan hubungan kecanduan selfie dengan masalah citra diri. Studi yang melibatkan lebih dari 2.000 pria dan wanita berusia 18-30 tahun itu menemukan bahwa orang-orang yang secara teratur foto selfie memiliki perasaan rendah diri.


Pengakuan bukan merupakan kebutuhan kekinian tetapi sudah ada. Maslow memang benar saat menyatakan teori kebutuhan dan menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak dari Piramida Hiraki Kebutuhan. Pengakuan diri memang perlu tetapi pengakuan setiap hari dengan besarnya jumlah “like” akan menjurus kepada rasa haus yang berlebihan. Tuhan Yesus pernah berjumpa dengan orang yang sangat rasa haus, sehingga Tuhan Yesus berkata kepadanya “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal " (Yohanes 4:14). Jika pengakuan sudah menjadi sebuah beban dalam hidup, maka saya mengutip apa yang dikatakan Yesus dan fenomenal sampai sekarang “Marilah kepada-Ku,  semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28).


Setiap kita diciptakan secara istimewa. Kita bisa meyakini hal ini tanpa harus mengirim foto selfie dan menghitung jumlah "like". Mengapa? Karena TUHAN sendiri yang menyatakan bahwa kita adalah berharga, istimewa. TU HAN telah membuktikan betapa Dia menghargai dan mengasihi kita dengan datang sebagai manusia untuk membangun relasi kembali dengan kita, bahkan Ia mau mati bagi hidup kita. Masihkah kita sibuk dengan pengakuan yang sangat bergantung pada orang lain?

Semoga bermanfaat ……………………….

Comments