Nehustan ... Benda Relegius yang disembah



Bilangan 21:4-9, 2 Raja-raja 18:4.

pengertian tentang Nehustan, yaitu:
1. Nehosat (perunggu);
2. Hanya sedikit dari tembaga.

Nehustan dapat di artikan : patung buatan Musa, terbuat dari perunggu dan tembaga. Namun, patung itu sering disebut ular tembaga.

Patung itu dibuat setelah Musa mendapat jawaban doa karena masalah yang dialami bangsa Israel. Mereka dipagut ular sehingga menyebabkan kematian. Bukan tanpa alasan jika mereka mengalami seperti itu. Alasannya, mereka telah memberontak kepada Allah karena tidak mempunyai makanan dan minuman.

Karena itu, ular-ular tedung dipakai Tuhan untuk menghukum mereka. Untuk mengerti gambaran tentang ular itu, dapat kita tilik dari asal katanya. Ular itu berasal dari kata saraf (Ibr). Saraf adalah sejenis ular bersayap atau naga terbang. Supaya terbebas dari hukuman, melalui ular itu, Musa membuat patung dengan cara menaruhnya di atas tiang. Setiap orang, yang terpagut, akan tetap hidup jika melihatnya. Dari sini kita tahu bahwa setelah menghajar, Allah juga mengajar supaya mereka bergantung kepada-Nya. Jadi, jika kematian bisa Allah atasi, apalagi hanya makanan dan minuman.

ular tedung dari logam itu hanyalah tanda saja, tidak pernah itu dimaksudkan untuk merepresentasikan Allah (Kel 20:4). Tanpa Allah, tanda itu hanya benda mati buatan Musa yang tidak memberi pengaruh apa-apa. Kesembuhan orang-orang yang digigit ular tedung terjadi karena mereka percaya bahwa Allah akan menyembuhkan mereka pada saat melihat ular logam itu.

Pemahaman yang keliru tentang benda yang pernah diberi kuasa oleh Tuhan, kemudian dijadikan sebagai benda yang khususkan, benda yang disakralkan, benda yang dikudusjan secara berlebihan dengan dasar bahwa benda-benda tersebut merepresentasikan Allah, maka akan berakibat pada benda yang disembah melebihi Tuhan sendiri.

Nehustan yang pada awalnya untuk membuat bangsa Israel paham bahwa Tuhanlah sumber kesembuhan dan sumber segalanya. Namun dikemudian hari bangsa Israel justru menjadikan Nehustan sebagai Tuhan. Nehustan diperilah di dalam Bait Yerusalem, Raja Hizkia, sekitar 5 abad kemudian memusnahkannya (II Raj 18:4).

Bangsa Israel memberontak lagi di hadapan Tuhan. Mereka mempersembahkan kurban bakaran kepada Nehustan. Karena itu, Hizkia menghancurkannya. Ia juga menjauhkan bukit-bukit pengurbanan, meremukkan tugu-tugu berhala, dan menebang tiang-tiang berhala. Semua itu dilakukan karena ia percaya dan berpaut kepada TUHAN, Allah Israel sehingga ia melakukan tindakan yang menyenangkan Allah. Jadi, jika pada zaman Musa Nehustan menjadi berkat, pada zaman Hizkia Nehustan menjadi laknat.

Pada zaman Hizkia, bangsa Israel menyembah simbol daripada menyembah makna simboliknya.


Bukankah pada masa sekarang ini, kita juga melihat banyak sekali benda benda dijadikan sangat sakral seperti Nehustan. Ada Keris, Kelewang, kain terimasuk kain dari Turin, kuburan dari orang yang dianggap suci dan berjasa, benda berupa kalung dan benda benda lain yang dianggap merepresentasikan Tuhan Tuhan dan disembah. Sekarang ini jika siapa pun mengganggu penyembah kepada benda benda seperti di atas maka merupakan penghinaan.




Nehustan bermakna teologis. Nehustan merupakan simbol Kristus yang tersalib untuk mengalahkan dosa dan maut. Jika pada zaman Musa, orang yang memandangnya tetap hidup. Sekarang, setiap orang yang percaya kepada Kristus mendapat kehidupan kekal (Yoh. 3:16). Jalan ke surga tidak terhalangi sehingga kita dapat mendatangi Bapa surgawi. Karena itu, sembahlah Kristus saja.


YESUS mengutip kejadian ini untuk memberitakan betapa setiap orang diundang untuk memiliki iman yang memberi hidup. Saat Ia ditinggikan di atas kayu salib, kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, kepada karya Allah yang dinyatakan melalui makna salib Kristus, akan beroleh kehidupan kekal (Yoh 3:14-15). Allah penuh belas kasihan dan maha pengampun. Ia memberikan jalan agar manusia terbebas dari kematian karena ikatan dosa. Sebagaimana Israel mempercayakan kehidupan mereka kepada Allah yang berkarya menggunakan tanda ular logam, kita juga mempercayakan kehidupan kekal dan keselamatan kita kepada Allah yang berkarya di kayu salib dan kebangkitan. Manusia tidak akan pernah bisa menyelamatkan diri sendiri, seperti halnya orang Israel di gurun itu. Tetapi Allah sungguh memberi selamat kepada manusia, baik di dalam perjanjian-Nya yang pertama maupun yang kedua.

Bagi kita perjalanan Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian. Tidakkah kita pun saat ini sedang berjalan keluar dari perbudakan dosa (karena salib Kristus) menuju kepada kegenapan Kerajaan-Nya? Apakah di dalam perjalanan itu kita mengeraskan hati? Atau, kita memilih untuk tetap memelihara iman, bahwa dibalik segala tantangan dan kengerian hidup, ada Dia yang memberikan segala yang kita butuhkan, yang mendampingi kita menuju ke tempat perhentian terakhir, tempat yang dijanjikan-Nya (Ef 2:4-10)? Allah berkuasa. Kuasa-Nya mengatasi segala keangkuhan dosa kita, "kelaparan" kita, "kehausan" kita, keraguan dan ketakutan kita. Yang dinantikan-Nya ialah iman kita, iman kepada Yang memberi kehidupan.

Tentunya Tuhan Yesus lah Yang layak disembah. Bukan benda benda yang dianggap merepresentasikan Tuhan Yesus. Bahkan Tuhan saja menghilangkan Tabut Perjanjian dan semua perkakas atau benda benda penyembahan dalam Kemah Pertemuan buatan Musa dan Daud serta Salomo supaya kita tidak menyembah Benda bahkan benda itu peninggalan relegius.

Tuhan Yesus memberkati.... Semoga bermanfaat.


Comments