Warisan - 2 Raja-raja 4:1-7



Sebagai seorang Ayah, saya pernah menyaksikan beberapa peristiwa tentang warisan dari orang orang yang dikenal berhasil. Kebanyakan warisan mulai dibicarakan setelah seseorang menghembuskan nafas terakhirnya. Tanah adalah sengketa warisan yang paling banyak mengemuka diikuti oleh uang dan kendaraan baik roda 2 maupun roda empat. Ketika menyaksikan peristiwa peristiwa tersebut, saya berpikir dan bertanya " bagaimana dengan saya nantinya.


Ada suatu peristiwa tentang warisan yang dicatat Alkitab, dimana saya berharap tidak boleh terjadi saat saya masih kuat. Peristiwa tersebut terdapat dalam 2 Raja-raja 4:1
“Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati, dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua anakku menjadi budaknya.”


Menurut ayat di atas, perempuan ini adalah isteri dari seorang laki-laki yang takut akan Allah, seorang yang menghormati Allah. Sayangnya sang suami meninggal, dan mewariskankepada keluarganya hutang yang tidak sanggup mereka bayar. Akibatnya, penagih hutang datang untuk mengambil kedua putranya dan menjadikan mereka budaknya.


tidak semua warisan itu sama. Ada yang produktif, ada yang destruktif. Ada yang menjadi termasyhur, ada yang tidak dikenal. Bagaimana anda menjalani kehidupan ini akan mempengaruhi generasi-generasi mendatang. Pertanyaannya ialah, bentuk warisan seperti apa yang akan Anda tinggalkan?


Warisan rohani adalah satu-satunya warisan yang benar-benar layak ditinggalkan. Warisan jenis ini adalah sesuatu yang terpenting yang Anda tinggalkan bagi generasi penerus, yaitu iman Anda di dalam Yesus Kristus dan nilai-nilai dasar rohani KerajaanNya yang kekal. Ini semua jauh lebih penting dibandingkan dengan warisan berupa harta benda. Mengapa? Seorang yang hanya mewariskan uang bagi anak-anaknya sesungguhnya sedang membuat mereka miskin. Sebaliknya, ayah yang meninggalkan warisan rohani bagi keluarganya, berapapun besarnya, membuat keluarganya mengalami kekayaan yang sejati.


Alkitab berkata, “Orang benar yang bersih kelakuannya – berbahagialah keturunannya” (Amsal 20:7). Inilah warisan rohani itu, di mana integritas pribadi dan hidup bersih seseorang menjadi berkat terbesar bagi keturunannya.



Beberapa waktu lalu saya membaca bahwa sebuah tim sosiolog dari negara bagian New York, AS, berupaya menyelidiki pengaruh yang ditimbulkan oleh kehidupan seorang ayah terhadap anak-anaknya maupun generasi penerusnya. Dalam kajian itu, mereka menyelidiki riwayat dua orang pria yang hidup dalam kurun waktu yang bersamaan di abad ke-18. Satu orang bernama Max Jukes dan yang lain Jonathan Edwards. Warisan yang ditinggalkan oleh masing-masing pria tersebut bagi keturunannya menjadi bahan perbandingan yang kontras; mereka begitu berbeda, bagaikan siang dan malam.


Max Jukes bukanlah adalah seorang atheis, ia orang yang tidak mempunyai prinsip dalam hidupnya. Istrinya juga tidak pernah menjadi orang percaya kepada Tuhan sampai saat wafatnya.

Apa warisan yang Max Jukes tinggalkan bagi keluarganya? Inilah gambaran yang diperoleh mengenai 1.200 orang keturunan Max Jukes:


* 440 orang hidup dalam pesta pora
* 310 orang menjadi gelandangan dan pengemis
* 190 orang menjadi pelacur
* 130 orang menjadi narapidana
* 100 orang menjadi pecandu minuman keras
* 60 orang mempunyai kebiasaan mencuri
* 55 orang menjadi korban pelecehan seks
* 7 orang menjadi pembunuh


Hasil inipun membuktikan bahwa tidak satupun keturunan Max Jukes yang memberi kontribusi yang berarti bagi masyarakat. Bayangkan, tidak satupun! Sebaliknya, keluarga yang terkenal karena keburukannya ini secara total telah merugikan negara bagian New York sebesar 1.200.000 dolar AS. Sama sekali tidak ada warisan baik yang ditinggalkan.



Bagaimana dengan keluarga Jonathan Edwards? Jonathan Edwards dikenal sebagai salah satu pemikir yang paling cemerlang di Amerika. Ia adalah gembala jemaat yang terpandang dan teolog yang cerdas. Sarjana yang terkenal ini adalah salah satu hamba Tuhan yang dipakai Allah untuk gerakan Kebangunan Rohani Besar di Amerika saat itu. Di kemudian hari, Jonathan menjabat sebagai Rektor di Princeton College.


Jonathan Edwards berasal dari keluarga yang taat. Ia menikah dengan Sarah, seorang wanita yang sangat setia kepada Tuhan. Mereka berdua selalu berusaha meninggalkan warisan yang baik kepada anak-anaknya. Inilah keturunan mereka yang terungkap melalui penelitian tadi:


* 300 orang menjadi pendeta, misionaris atau guru besar di bidang teologi
* 120 orang menjadi profesor di bidang akademis
* 110 orang menjadi pengacara
* Lebih dari 60 orang menjadi dokter
* Lebih dari 60 orang menjadi penulis buku berkualitas
* 30 orang menjadi hakim
* 14 orang menjadi rektor universitas
* Banyak yang menjadi pemilik pabrik di Amerika
* 3 orang menjadi anggota kongres Amerika
* 1 orang menjadi wakil presiden Amerika Serikat


Nyaris mustahil untuk menemukan salah satu keturunan Jonathan Edwards yang tidak menjabat sebagai pemimpin utama dalam bidang-bidang yang paling besar dan paling berpengaruh di Amerika. Inilah pengaruh abadi yang dihadirkan oleh seorang pria yang taat bagi keluarga dan keturunannya.


Tuhan memberkati..... semoga bermanfaat

Comments