KESAKSIAN MISIONARIS DI PAPUA TENTANG INTEGRITAS



everdethan.blogspot.com - Seorang misionaris Amerika melayani di sebuah daerah pedalaman [Papua] bersama keluarganya [sebagaimana diceritakan sendiri oleh sang misionaris, klik http://www.youtube.com/watch?v=rYM-4mGYzzE ]. Ia mengerjakan banyak hal, ia membuka hutan dan membangun pondok-pondok tempat tinggal; ia membawa penduduk keluar dari hutan dan membawa mereka tinggal di desa yang dibukanya; ia mengajar; memberitakan Injil; membuka klinik kesehatan; membuka warung yang menjual garam sebagai bumbu masakan dan juga barang-barang keperluan lainnya; dan salah satu aktivitas penting untuk menopang kebutuhan pangannya di pedalaman adalah dengan berkebun.


Misionaris ini membawa bibit buah nanas yang cukup banyak. Ia mendapatkan seorang penduduk asli untuk membantunya menanam bibit-bibit tanaman nanas itu. Misionaris itu mengupah penduduk asli itu untuk membuka dan mengolah tanah yang luas, yang akan ditanami dengan bibit nanas.


Rasanya lama sekali untuk bibit-bibit nanas itu tumbuh menjadi besar dan menghasilkan buah nanas. Memerlukan waktu tiga tahun lamanya untuk bibit-bibit itu berbuah. Hidup di daerah pedalaman hutan membuat orang rindu untuk makan buah-buahan segar.


Akhirnya tibalah tahun ketiga. Misionaris itu dapat melihat buah-buah nanas segar bermunculan. Ia harus menunggu sampai akhir tahun karena pada saat itulah buah-buah nanas itu masak. Dan ketika akhir tahun tiba, misionaris itu berjalan-jalan di kebunnya untuk melihat apakah ada buah nanas yang cukup matang untuk dimakan.




Ia terkejut, karena ia tidak mendapatkan satu buah pun untuk dimakan. Penduduk setempat telah terlebih dahulu mencuri semua buah nanas yang ada. Misionaris itu sangat marah kepada penduduk pedalaman itu. Seakan dibutakan oleh nanas, misionaris itu memutuskan untuk menutup klinik kesehatan yang ada. Namun tetap saja, satu per satu buah nanas mulai masak, dan satu per satu hilang dicuri.


Misionaris sendiri pun tidak tahan lagi melihat penduduk yang sakit, dan akhirnya dia membuka kembali klinik kesehatannya. Klinik kesehatan dibuka kembali, tapi tetap saja buah nanas misionaris dicuri lagi, dan ia pun merasa jengkel lagi.


Akhirnya, misionaris itu mengetahui siapa yang melakukan pencurian tersebut. Pelakunya adalah orang yang telah menanam buah nanas itu; tukang kebun sang misionaris sendiri. Misionaris itu memanggilnya dan menginterogasinya. Tukang kebun itu menjelaskan hukum di antara penduduk pedalaman itu, jika mereka menanam sesuatu, berarti itu adalah milik mereka. Mereka tidak pernah mengenal ide tentang membayar untuk jasa. Misionaris dan orang pedalaman itu terus berdebat tentang siapa yang memiliki pohon-pohon nanas itu.


Dengan jengkel misionaris itu kemudian membuat kesepakatan dan membagi dua isi kebun nanas itu. Setengah kebun milik sang misionaris, dan setengahnya lagi diperuntukkan untuk si tukang kebun. Tukang kebun itu kelihatan seolah-olah mengerti persetujuan itu. Tetapi buah-buah nanas sang misionaris, tetap saja hilang dicuri.


Dengan perasaan sangat kesal, akhirnya misionaris itu memutuskan untuk memulai dari awal lagi. Dengan berat hati, misionaris itu membayar orang untuk mencabuti semua tanaman nanas itu dan membuangnya. Misionaris itu harus melewati tiga tahun lagi dengan tanaman nanasnya yang baru. Misionaris itu sangat bersyukur, membayangkan bahwa ia akan menikmati buah-buah nanas yang segar. Namun apa yang terjadi kemudian? Lagi-lagi semua buah nanasnya hilang dicuri.


Misionaris berpikir apa yang harus diperbuatnya kini. Ia pun memutuskan untuk menutup toko. Dari toko itu, penduduk mendapatkan garam dan barang-barang keperluan lainnya. Kini mereka tidak lagi dapat memperoleh barang-barang itu. Tapi apa yang kemudian dilakukan para penduduk itu? Mereka memutuskan untuk kembali tinggal di dalam hutan.


Kini tinggallah sang misionaris sendirian tanpa ada pelayanan. Akhirnya, sang misionaris kembali membuka tokonya, dan penduduk pun kembali tinggal di kampung. Misionaris harus memikirkan cara baru untuk menjaga kebun nanasnya. Ia mendapat ide.


Misionaris itu kemudian memelihara seekor anjing herder yang sangat besar. Semua penduduk takut kepada anjing herder itu. Ide anjing itu berhasil. Kebanyakan orang tidak ada yang berani datang lagi, dan keadaan misionaris itu kembali sama seperti ketika ia menutup tokonya. Tidak ada pelayanan.


Memelihara anjing ternyata juga tidak berhasil. Anjing itu pun mulai berkembang biak dengan anjing-anjing setempat dan menghasilkan anak-anak anjing setengah herder yang kelaparan. Agar tidak menjadi lebih membahayakan, akhirnya, misionaris itu terpaksa harus membuang anjing itu. Misionaris itu betul-betul telah habis akal.


Tibalah saat cuti, dan akhirnya misionaris itu pun kembali ke Amerika. Dalam seminar itu ia mendengar khotbah yang mengingatkannya bahwa kita harus menyerahkan semua yang kita miliki kepada Tuhan. Tuhanlah yang menjadi pemilik sesungguhnya dari segala sesuatu yang kita punya. Khotbah itu membuat sang misionaris itu merenung. Akhirnya dia memutuskan untuk belajar menyerahkan apa yang memang menjadi milik Tuhan.


Masa cuti selesai, misionaris itu pun kembali ke pedalaman. Ia belajar untuk menyerahkan kebun nanasnya kepada Tuhan. Melalui Firman Tuhan, Roh Kudus telah menanamkan nilai/prinsip baru dalam diri sang misionaris. Dan apa yang terjadi kemudian dengan kebun nanas misionaris? 


Seperti biasa, para penduduk setempat tetap saja mencuri buahnya. Dalam hati, misionaris itu berdoa, “Lihat, Tuhan! Bahkan Engkau sendiri tidak dapat mengendalikan mereka juga.”


Namun suatu hari, seorang penduduk setempat mendatangi sang misionaris dan bertanya, “Tuan! Tuan sudah menjadi Kristen sekarang?”


Sang misionaris heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya balik, “Mengapa Kamu bertanya seperti itu?”


Penduduk setempat itu menjawab, “Karena Tuan tidak marah-marah lagi setiap kali kami mencuri buah-buah nanas di kebun Tuan!”


Mendengar pernyataan penduduk itu, sang misionaris tersadarkan. Para penduduk pedalaman itu selama ini melihat bahwa misionaris itu tidak hidup seperti yang ia sendiri khotbahkan. Tapi kini, mereka melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri misionaris itu; sesuatu yang lebih konsisten.


Seorang penduduk setempat bertanya lagi, “Mengapa Tuan tidak marah-marah lagi?”


Misionaris itu menjawab, “Karena saya sudah menyerahkan kebun saya kepada oranglain. Kebun itu bukan milik saya lagi. Jadi kalau kamu mencuri buah-buah nanas itu, kamu bukan mencuri buah-buah nanas saya. Saya tidak perlu marah lagi.”


Salah seorang penduduk yang lain bertanya, “Milik siapa kebun itu sekarang?”


Misionaris itu berkata, “Saya menyerahkan kebun nanas saya kepada Tuhan.”


Para penduduk itu pun menjadi geger. Mereka berkata satu dengan yang lain, “Kita telah mencuri nanas-nanas milik Tuhan. Tidak heran kami tidak mendapat babi lagi ketika berburu; isteri-isteri kami mandul; kami mendapatkan kesusahan-kesusahan.”


Para penduduk itu akhirnya menjadi takut akan Tuhan. Segera setelah peristiwa itu, banyak penduduk setempat yang menjadi Kristen. Mereka kini melihat juga bahwa apa yang disampaikan oleh sang misionaris, sama dengan yang dihidupinya. Nilai/prinsip baru dalam kehidupan sang misionaris, menghasilkan perilaku yang baru; dan perilaku yang baru ini menghasilkan kebiasaan yang baru; dan ketika para penduduk itu melihat ada kebiasaan yang berubah dari sang misionaris, mereka pun ikut berubah. Kebiasaan yang baru menghasilkan budaya yang baru.


Penduduk setempat mulai membawa barang-barang kepada sang misionaris untuk diperbaiki. Suatu hari ketika sang misionaris sedang memperbaiki kursi, seorang penduduk setempat menawarkan bantuannya. Sang misionaris bertanya dengan sedikit curiga, “Apakah kamu menawarkan bantuan karena mengharapkan sesuatu dari saya?” Penduduk setempat itu menjawab, “Tidak Tuan. Saya membantu karena Tuan telah membantu memperbaiki sekop saya.” Mereka kini telah menjadi orang-orang yang mengerti tentang balas jasa.


Dari Kisah di atas, kita belajar bahwa INTEGRITAS BERTERIAK lebih keras dari khotbah yang disampaikan penuh semangat. 

  


Tuhan Memberkati .... Semoga bermanfaat


Comments