Chaterine Panjaitan - putri sulung Mayor Jenderal Anumerta Donald Issac (DI) Pandjaitan - MENGAMPUNI-




Everdethan.blogspot – Peristiwa Gerakan 30 September (G30S-PKI) 50 tahun yang lalu masih menyisakan cerita kelam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Hiruk pikuk pro kontra antara berbagai kelompok kepentingan politik seputar rencana Presiden Joko Widodo untuk melakukan rekonsiliasi antara negara dengan keluarga korban terus berlangsung setiap tahunnya.


Namun bagaimana dengan para korban? Baik itu keluarga dari korban peristiwa tersebut yang ditangkap dan dibunuh pasca peristiwa penculikan para petinggi Angkatan Darat, maupun keluarga korban petinggi Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965.


Catherine Pandjaitan, putri sulung Mayor Jenderal Anumerta Donald Issac (DI) Pandjaitan,
bergumul sendirian dengan bayangan kelam detik-detik kematian ayahnya yang tewas tersungkur tepat di hadapannya.

Rasa marah, sedih dan sesal menjadi sarapan sehari-hari Catherine selama berpuluh tahun. Namun sedikit demi sedikit, perempuan kelahiran Jakarta 8 Juli 1947 bangkit tegar berdiri dan memilih untuk memaafkan para pelaku pembunuh ayahnya. 

“Ya mula-mula sih nggak enak ya. Dengan meninggalnya orangtua kita hidup ini penuh sakit hati, penuh kebencian. Sakit hati lihat pemerintah, sakit hati lihat bangsa ini, kok kejam kasar. Tapi ya lama-lama kita yang sudah mengalami trauma ya mesti. Karena tidak ada yang bisa tolong kita. Kita mesti cari sendiri pengobatannya,” tutur Catherine kepada wartawan VOA dalam sebuah wawancara eksklusif.


Ketika ditanya soal pemulihan trauma, Catherine menjawab, setahun pertama dia hanya bisa menangis dan marah jika ingat peristiwa penembakan yang terjadi di depan matanya.



“Akhirnya, dokter menyarankan ke ibu saya, karena (rumah) itu tempat di mana ayah saya dibunuh, kan setiap kita keluar rumah, di situ kan ditembaknya. Jadi every time kita lewat ya selalu mengingatkan. Mereka bilang saya banyak berubah. Dokter menyarankan, kejiwaan saya jangan sampai rusak. Dokter bilang ‘kau pindah lah dari rumah itu’, Ibu saya nggak mau karena kita baru pindah, itu rumah baru dibangun setelah kita pulang dari Eropa,” lanjutnya.


Jadi waktu itu Catherine dititipkan kepada keluarga, yaitu almarhum Umaryadi saat ia dikirim ke Jenewa sebagai duta besar.
“Saya ke sana. Bertahun-tahun saya di Eropa. Sekolah nggak sekolah, jadi begitulah, kayak kapal yang terombang ambing. Jadi begitu, pergi sekolah komputer lalu kecantikan, sekolah apapun. Nggak jadi-jadi,” kenangnya.
Lalu akhirnya, Catherine muda bertemu dengan BJ Habibie, mantan Presiden Republik Indonesia ke-3.
“Ya memang dari kecil saya kenal dengan beliau. Saya curhat, ‘kok begini sih Oom, hidup?’ Lalu dia bilang, ‘sekarang kamu mau apa?’ Saya bilang, ‘saya pengen keliling dunia aja deh. Tapi saya nggak ada duit.’ Dia bilang, ‘kamu kan pinter bahasa, kenapa kamu tidak jadi stewardess (pramugari)? Do you like it?’" tuturnya.


Catherine tertarik, walaupun tak tahu bagaimana caranya.

“Akhirnya karena waktu itu saya dapat beasiswa dari (perusahaan) Fritz Werner Jerman, Papa saya kan di bagian logistik dulu. Mereka bantu. Kirim surat ke saya untuk jadi stewardess, menang saya. Dari lima orang, dia orang yang terpilih. Ya sudah saya lima tahun jadi stewardess wara-wiri keliling aja,” katanya.


Lalu setelah menikah dan punya anak satu, lanjut Catherine, dia bertemu dengan seorang pendeta.
“Saya cerita sama dia, pokoknya setiap saya ketemu dengan orang yang lebih dewasa saya curhat. Karena saya mencari, siapa yang bisa menolong saya? Nggak ada. Akhirnya di situ dia bilang, ‘coba kita ibadah.’ Saya tantang dia, apa iya? Tapi saya lihat dia lain daripada yang lain. Lalu dikasih saya ayat (dalam Alkitab). Nah semuanya bener. Saya terpaku. Sejak itu saya tekuni selama 30 tahun ini untuk ibadah, tiga kali seminggu,” ungkapnya. 

Akhirnya, Catherine mengaku sudah bisa memaafkan. Dia juga menyebutkan, bisa memaafkan orang yang sudah menjahati..

Sumber : Mana Surgawi

Comments