SEJARAH GEREJA BETHEL INDONESIA dan SEJARAH GEREJA BETHEL INDONESIA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN





SEJARAH GEREJA BETHEL INDONESIA GEREJA BETHEL INDONESIA bukanlah suatu gereja yang lahir sebagai akibat suatu perpecahan. Tetapi GEREJA BETHEL INDONESIA adalah seorang “anak” yang lahir setelah berada dalam kandungan 18 tahun lamanya. Yaitu tahun 1952-1970. Pada tahun 1952 Pdt. F.G Van Gessel dan H. L. Senduk menyatakan diri keluar dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) dan membentuk suatu organisasi gereja yang baru yang bernama “Gereja Bethel Injil Sepenuh” (GBIS). Selanjutnya Pada tahun 1970 Pdt. H. L.Senduk, Pdt. T. Jonathan dan Pdm. J. F. R. Montolalu mendirikan suatu Yayasan di Bandung dengan nama “Yayasan Gereja Bethel Indonesia”. Pdt. T. Jonathan dan Pdt. J. F. R. Montulalu adalah pemimpin jemaat Paturiani Bandung dan beradasarkan akte Yayasan GBI maka pada tanggal 29 September 1970 jemaat Paturiani Bandung menyatakan diri sebagai sebuah gereja dan melaporkan diri kepada Bimas Kristen Dep. Agama Jawa Barat sebagai jemaat GBI yang pertama.

Sementara itu, hamba-hamba Tuhan tersebut bersama beberapa hamba Tuhan yang lainnya terus menyusun konsep tentang pendirian suatu organisasi gereja yang baru. Hal ini dilakukan berdasarkan keputusan Surat Menteri Agama No. MA/342/70 tanggal 3 Oktober 1970 dan juga atas persetujuan Dirjen Bimas Kristen. Kemudian Pdt. H. L. Senduk bersama hamba-hamba Tuhan lainnya, menyampaikan apa yang menjadi kerinduan mereka dan mengundang hamba-hamba Tuhan dari daerah-daerah untuk mengadakan suatu pertemuan dengan satu maksud yaitu membentuk suatu Organisasi Gereja baru, di mana mereka bisa melayani Tuhan dengan bebas di bawah pimpinan Roh Kudus. Akhirnya pada tanggal 06 Oktober 1970, bertempat di Wisma Oikumene PGI Sukabumi (Jawa Barat) berkumpulah 129 Hamba-Hamba Tuhan untuk membicarakan tentang pembentukan satu organisasi gereja baru. Setelah selesai menyusun Tata Gereja dan Tata Tertib Gereja dan juga setelah selesai menentukan nama dari Gereja baru tersebut, maka ketua rapat berdiri dan menyatakan di hadapan Tuhan “Hari ini, tangal 6 Oktober 1970, atas nama Tuhan Yesus Kristus, kami menyatakan berdirinya Gereja Bethel Indonesia yang akan menjalankan tugas dan panggilannya sesuai dengan Firman Tuhan dan Tata Gereja” Dengan demikan setiap tanggal 6 Oktober selalu diperingati sebagai hari lahirnya Gereja Bethel Indonesia. Setelah pendeklarasian GEREJA BETHEL INDONESIA, maka para Pengurus Sinode GEREJA BETHEL INDONESIA segera menyelesaikan adminitrasi hukum untuk pendaftaran organisasi GEREJA BETHEL INDONESIA sebagai lembaga keagamaan yang legal di Negara Republik Indonesia.

Eksistensi GEREJA BETHEL INDONESIA kemudian disetujui oleh Departemen Agama Republik Indonesia dengan menerbitkan SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDRAL BIMBINGAN MASYARAKAT (BIMAS) KRISTEN PROTESTAN DEPARTEMEN AGAMA RI NO. 41 TAHUN 1972 PERNYATAAN GEREJA BETHEL INDONESIA SELAKU LEMBAGA KEAGAMAAN YANG BERSIFAT GEREJA . Kemudian pada Tahun 1972 Terbit KEPUTUSAN DIREKTUR JENDRAL BIMBINGAN MASYARAKAT (BIMAS) KRISTEN PROTESTAN DEPARTEMEN AGAMA RI NOMOR 211 TAHUN 1989 TENTANG PENGAKUAN GEREJA BETHEL INDONESIA SELAKU LEMBAGA KEAGAMAAN YANG BERSIFAT GEREJA Hal ini menegaskan bahwa GEREJA BETHEL INDONESIA secara resmi diakui keberadaannya oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai lembaga keagamaan yang bersifat gereja (KERKGENOOTCHAP – DIBACA KERGENOTCAP) Sejak saat pendeklarasian oleh BAPAK PENDETA H. L. SENDUK yang adalah BAPAK GEREJA BETHEL INDONESIA dan sering disapa OM HO, GEREJA BETHEL INDONESIA telah berkembang dengan sangat pesat sesuai pimpinan Roh Kudus dengan jumlah mata jemaat di seluruh Indonesia sebanyak 6000 buah , bahkan GEREJA BETHEL INDONESIA juga ada di beberapa negara lainnya, seperti Australia, RRC (China), Taiwan, Belanda, Amerika Serikat, Filipina dan akan menyusul negara negara lain. GEREJA BETHEL INDONESIA adalah salah satu gereja yang terdaftar pada organisasi persekutuan gereja tingkat nasional, yaitu Persekutuan Gereja Gereja Indonesia (PGI) dengan Nomor : 11/PGI-XI/SKET/1990, Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Injili Indonesia (PII). Dengan terdaftarnya GEREJA BETHEL INDONESIA pada lembaga-lembaga tingkat nasional tersebut di atas termasuk pada Persekutuan Gereja Gereja Indonesia (PGI) menepis Isu yang disebarkan oleh oknum-oknum yang cemburu dan iri bahwa GEREJA BETHEL INDONESIA adalah gereja sesat. Dari jumlah 6000 mata jemaat GEREJA BETHEL INDONESIA di seluruh Indonesia terdapat 64 mata jemaat di wilayah Kabupoaten Timor Tengah Selatan


SEJARAH GEREJA BETHEL INDONESIA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN SEBAGAI BERIKUT:

Perintisan Jemaat dilakukan sejak tahun 1964 oleh Pendeta Jacobys Syar Dethan. Perintisan pertama tersebut bukan dilakukan di kota SoE tapi di Oekolo, desa Nulle, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pada tanggal 10 Oktober 1964 terbentuklah Jemaat Immanuel. Awalnya jemaat hanya terdiri dari 2 (dua) Kepala Keluarga, yaitu Almarhum Agustinus Tanono dan Almarhum Nehemia Selan dengan 12 (dua belas) jiwa baptis dan 5 (lima) orang anak. Dari tahun 1964 sampai tahun 1966 jemaat tersebut makin berkembang dari 2 (dua) Kepala Keluarga menjadi 20 (dua puluh) Kepala Keluarga dengan 122 jiwa. Perintisan jemaat di Kabupaten Timor Tengah Selatan dilanjutkan Pada awal Tahun 1966 setelah pecahnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Perintisan ini dilakukan oleh Pendeta Efraim Saul Dethan dan Pendeta Jacobys Syar Dethan dengan melakukan perjalanan penginjilan putaran pertama dengan tujuan jemaat yang terabaikan oleh gereja kerena terkait dengan masalah organisasi terlarang, sebagai langkah awal Pendeta Efraim Saul Dethan melaporkan diri ke PUTEPRA semacam Dandim Soe dan menjaminkan dirinya bahwa jika orang – orang yang terkait dengan organisasi terlarang yang tersebar di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan tetap berbuat sesuatu menentang dan melawan negara maka seluruh kesalahan mereka ditanggungkan kepada Pendeta Efraim Saul Dethan, kata-kata yang menyakinkan Dandim SoE adalah sebagai berikut : “
Penjara, lembaga manusia dan kepintaran manusia melalui semua metode tidak dapat merombak karakter manusia seperti mereka, hanya Tuhan Yesus Kristus dan FirmanNya yang dapat, oleh karena itu ijinkan saya membina mereka melalui GEREJA.’”
Setelah mendapatkan ijin dari PUTEPRA atau Dandim SoE, maka perjalanan penginjilan pertama rute Leobisa, Oekolo, Nifukiu, Teas, oepliki, Basmuti, Masikolen dan beshala. Kemudian Pendeta Efraim Saul Dethan dan Pendeta Jacobys Syar Dethan berpisah. Setelah perjalanan peginjilan perintisan tersebut maka Pendeta Efraim Saul Dethan melakukan perkunjungan sama seperti Rasul Paulus setiap 2 (bulan) sekali. Kadang- kadang diawali dari Beshala atau Leobisa. Dalam setiap perkunjungan terkadang Pendeta Jacobys Syar Dethan bertemu dan menemani di Teas ataupun Maiskolen. Pada Tahun tanggal 6 Oktober 1970 Pendeta Efraim Saul Dethan mengikuti Rapat Pembentukan Sinode baru berdasarkan undangan Pendeta H. L. Sendukh. Pada kesempatan tersebut Pendeta Efraim Saul Dethan didaulat menjadi Ketua Badan Pekerja Daerah GEREJA BETHEL INDONESIA Nusa Tenggara Timur. Untuk menindaklanjuti hasil keputusan Rapat tanggal 6 Oktober 1970 di Sukabumi maka direncanakan perjalanan penginjilan putaran kedua. Pada tahun 1971 perjalanan penginjilan putaran kedua dimulai oleh Bapak Pendeta Efraim Saul Dethan dan Bapak Pendeta Benyamin Ndoloe yang pada waktu itu telah selesai menyelesaikan studi pada Sekolah Penginjil Bethel Indonesia. Perjalanan penginjilan GEREJA BETHEL INDONESIA di Kabupaten Timor Tengah Selatan putaran kedua dilakukan dengan berjalan kaki dimulai dengan mengambil rute, meliputi desa Oekolo-nulle, Oepliki, Ti’in, Teas kobebesa, oetnanan dan pada saat sampai di teas -oetnanan mereka bertemu dengan saudara Samgar Mauboy yang dalam keadaan sakit, kedua pipi bengkak semacam bof dan rematik. Pendeta Efraim Saul Dethan menawarkan untuk mendoakan saudara Samgar Mauboy tetapi saudara Samgar Mauboy menjawab ini masih di jalan sebaiknya berdoa harus di gereja tetapi Pendeta Efraim Saul Dethan menegaskan bahwa berdoa dimana saja tidak ada masalah karena Tuhan Yesus Kristus yang saya sembah tidak dibatasi oleh Tempat, Roh Kudus ada di mana-mana. Setelah saudara samgar mauboy menyetujui maka Pendeta Efraim Saul Dethan dan Pendeta Benyamin Ndoloe mendoakannya. Tuhan Yesus kristus yang kita sembah kuasaNya dahulu, hari ini dan selamanya tidak berubah, Mujizatnya terus ada karena setelah di doakan sauadara Samgar Mauboy mengalami mujizat seketika itu juga terbukti bengkak pada pipinya hilang dan saudara Samgar Mauboy dapat berjalan kembali. Berita tentang mujizat yang dialami saudara Samgar Mauboy dengan cepat tersebar di seluruh wilayah selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dari Oetnanan perjalanan diteruskan bersama Suadara Samgar Mauboy yang telah menyatakan diri bergabung dengan GEREJA BETHEL INDONESIA menuju desa Kiubaat, tempat tinggal Saudara Mauboy untuk diresmikannya Pos PI GEREJA BETHEL INDONESIA Kiubaat. Dari Kiubaat perjalanan diteruskan menuju Basmuti melalui Oebelo. Ketika sampai di Oebelo, Bapok Mateos Asbanu memanggil dan minta untuk mendoakan Bapak Mateos Asbanu yang sedang sakit demam tinggi dengan kemungkinan Malaria akut. Kondisi rumah yang ditempati bapak Asbanu adalah Rumah kebun dengan tinggi hanya dibawah 1 (satu) meter sehingga ketika Pendeta Efraim Saul Dethan dan Pendeta Benyamin Ndoloe mendoakannya mereka harus berjongkok. Sekali lagi Tuhan Yesus menyatakan kemuliaanNya sehingga Bapak Mateos Asbanu sembuh seketika. Perjalanan dilanjutkan ke Basmuti dengan perjanjian dalam perjalanan pulang harus melalui Oebelo untuk peresmian Pos PI GEREJA BETHEL INDONESIA Oebelo. Dari Basmuti perjalanan perintisan menuju Masikolen melalui Oebelo. Setelah tiba di Masikolen disepakati Pendeta Benyamin Ndoloe tinggal dan melanjutkan pelayanan di Wilayah Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan serta Bapak Pendeta Jacobys Syar Dethan melanjutkan pelayanan di wilayah kota SoE, oekolo, nifukiu. Dengan demikian Berakhirlah penginjilan perintisan GEREJA BETHEL INDONESIA Kabupaten Timor Tengah Selatan Putaran kedua. Pada Bulan Oktober 1971 perjalanan penginjilan perintisan Gereja Bethel Indonesia putaran ketiga dimulai dengan Bapak Pendeta Efram Saul Dethan dan Bapak Pendeta Benyamin Ndoloe serta Bapak Pendeta Jacobys Syar Dethan berjanji untuk bertemu pada peresmian Pos PI GEREJA BETHEL INDONESIA Tubulaut-Hane. Dari Tubulaut-Hane, bertiga berjalan kaki menuju Desa Leobisa wilayah Kopeta SoE. Pada tanggal 10 Oktober 1971 mereka sampai di Leobisa untuk melakukan peresmian GEREJA BETHEL INDONESIA Leobisa yang telah dirintis oleh Pendeta Jacobys Syar Dethan. GEREJA BETHEL INDONESIA Leobisa ini adalah cikal bakal GEREJA BETHEL INDONESIA Jemaat Mawar Saron SoE. Dari Leobisa perjalanan diteruskan ke Teas, Ti’in, oepliki, Taebesa, Basmuti, Oebelo, maiskolen dan kembali ke kota SoE. Dalam perjalanan ketiga ini ada pengalaman menarik, yaitu karena rute perjalanan yang jauh dan TTS dalam keadaan kering sehingga air sangat susah diperoleh, ketika haus mereka dengan berdoa hanya minum dari genangan air pada bekas tapak kaki kuda tetapi Tuhan Yesus tetap menjamin kesehatan mereka. Setelah perjalanan penginjilan perintisan GEREJA BETHEL INDONESIA ketiga, maka ditetapkan Pendeta Benyamin Ndoleo sebagai Ketua Badan Pengurus Wilayah GEREJA BETHEL INDONESIA Kabupaten Timor Tengah Selatan sampai Tahun 1994. tetapi perkunjungan dari Pendeta Efraim Saul Dethan tetap dilakukan setiap bulannya sampai tahun 1974 dengan menempatkan Pendeta Hendrik Rotu di GEREJA BETHEL INDONESIA Oepliki. Setelah Era kepemimpinan bapak Pendeta Benyamin Makandoloe maka pada tahun 1994 diserahkan kepada Bapak Pendeta Jacobys Syar Dethan, Tahun 1999 adalah Bapak Pendeta Yacob Ninggeding, S.Th dan pada tahun 2006 Bapak Pendeta Elia Tari sampai sekarang. Pada Tahun 2000 sebanyak 22 gereja di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan dibawa pimpinan Bapak Pendeta Filmon Manafe menyatakan bergabung dengan GEREJA BETHEL INDONESIA dan meminta bapak Pendeta Efraim Saul Dethan Almarhum sebagai pendeta pembina dan pada tahun 2002 secara resmi dikembalikan dalam binaan GEREJA BETHEL INDONESIA Kabupaten Timor Tengah Selatan. ---- SEMOGA BERMANFAAT -

Comments